Sinata.id – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif di dunia kerja mulai memunculkan kekhawatiran serius, khususnya bagi generasi muda yang baru merintis karier.
Generasi Z, terutama mereka yang berkecimpung di sektor teknologi, dinilai sebagai kelompok paling rentan terdampak oleh gelombang revolusi AI.
Ekonom senior Goldman Sachs, Joseph Briggs, menilai transformasi teknologi ini sekaligus membuka peluang besar sekaligus menghadirkan ancaman nyata bagi masa depan karier Gen Z.
“Pekerja Gen Z di bidang teknologi merupakan pihak yang paling berisiko tergantikan oleh perkembangan AI,” ujar Briggs, dikutip Sinata.id via Times of India, Senin (25/8/2025).
Meski adopsi AI di perusahaan global masih berada pada tahap awal, tanda-tanda dampaknya sudah mulai terlihat. Data Goldman Sachs mencatat, tingkat pengangguran usia 20–30 tahun mengalami kenaikan sekitar tiga poin persentase sejak awal 2025. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok pekerja berpengalaman di sektor lain.
Fenomena serupa juga tercermin pada menurunnya ketersediaan lowongan kerja. Sejak 2023, jumlah posisi entry-level di sektor teknologi Amerika Serikat dilaporkan menyusut hingga 35 persen.
Di sisi lain, Briggs menekankan adanya peluang baru yang muncul dari revolusi ini. Banyak Gen Z yang kini memilih meningkatkan kapasitas diri melalui pelatihan intensif dan sertifikasi teknologi. Tidak sedikit pula yang beralih ke jalur kewirausahaan dengan memanfaatkan keterampilan digital untuk membangun usaha sendiri.
Namun, tidak semua kalangan optimistis. “Sebagian justru khawatir percepatan revolusi AI akan semakin mempersempit ruang bagi mereka untuk membangun karier jangka panjang,” kata Briggs.
Briggs menegaskan, kecerdasan buatan tidak hanya perlu dipandang sebagai inovasi, melainkan juga sebagai tantangan besar yang akan menentukan arah masa depan profesi generasi muda. (A46)