Jakarta, Sinata.id — Arab Saudi mencatat lonjakan tajam ekspor minyak mentah ke China, seiring langkah penurunan harga jual (Official Selling Price/OSP) yang diterapkan oleh Saudi Aramco. Kebijakan ini dipandang sebagai strategi Riyadh untuk mempertahankan daya saingnya di tengah persaingan ketat global dan kondisi pasokan berlebih.
Data dari para pelaku pasar menunjukkan bahwa volume minyak Saudi yang dijadwalkan untuk pengapalan ke China pada Maret 2026 diperkirakan mencapai 56–57 juta barel—angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan pengiriman bulan sebelumnya. Dikutip pada Senin (16/2/2026), lonjakan ini terjadi setelah penurunan harga Arab Light ke level terendah dalam lebih dari lima tahun.
Analis pasar menyebut kebijakan harga tersebut membuat minyak Saudi semakin kompetitif dibandingkan pasokan spot dari negara lain di kawasan, sehingga mendorong pembeli besar seperti perusahaan kilang China untuk memperbesar alokasi impor.
Strategi Harga untuk Rebut Pangsa Pasar Asia
Sumber internal industri yang enggan disebutkan namanya mengatakan, penurunan OSP ini dilakukan bukan semata untuk menyesuaikan dengan gejolak harga komoditas global, tetapi juga untuk mempertahankan posisi Arab Saudi dalam portofolio energi China, yang merupakan importir minyak terbesar di dunia.
Langkah ini dipandang sebagai manuver strategis dalam situasi global yang diwarnai kekhawatiran terkait pasokan dan surplus di pasar minyak dunia. Menurut para trader, harga yang lebih rendah membuat pembelian minyak Arab Saudi menjadi pilihan lebih menarik dibandingkan sumber lain yang tersedia di pasar Asia.
Dampak Gerak Harga terhadap Permintaan Beijing
China, dengan permintaan energi yang terus meningkat seiring laju industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi, terlihat merespons cepat sinyal harga ini. Kilang-kilang besar di negara itu, termasuk beberapa perusahaan petrokimia terkemuka, dilaporkan telah meningkatkan pemesanan minyak Arab Saudi untuk pengiriman selanjutnya.
Para analis menilai bahwa akibatnya, Riyadh tidak hanya menambah volume ekspor, tetapi juga mengukuhkan kembali hubungannya dengan Beijing di sektor energi, di tengah kompetisi dengan negara-negara lain yang juga agresif menawarkan minyak dengan harga menarik.
Tantangan di Tengah Pasar Global
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.