Di Washington, pejabat tinggi AS menilai Iran sedang berada pada titik paling rapuh sejak Revolusi Islam 1979. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut gelombang protes nasional bulan lalu sebagai tantangan terbesar bagi kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei.
Aksi itu berujung pada tindakan keras aparat keamanan, yang dilaporkan menewaskan ribuan orang dan menahan puluhan ribu lainnya. Di tengah situasi tersebut, Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman militer.
Amerika Serikat kini menempatkan USS Abraham Lincoln beserta kapal perang dan jet tempur tambahan di kawasan. Namun, apakah kekuatan itu benar-benar dapat mengubah perilaku Iran—atau justru memicu perang regional—masih menjadi tanda tanya.
Negara-negara Teluk Arab pun menyuarakan kegelisahan. Insiden penembakan drone Iran di sekitar kapal induk AS serta upaya Teheran menghentikan kapal berbendera Amerika di Selat Hormuz menjadi sinyal betapa rapuhnya stabilitas kawasan.
“Kerentanan” yang Dibaca Washington
Peneliti Atlantic Council, Alissa Pavia, menilai tekanan yang dihadapi Iran kini dimanfaatkan Washington sebagai kartu tawar.
“Iran melemah akibat konflik proksi berkepanjangan, tekanan ekonomi, dan gejolak domestik. Trump melihat kerentanan ini sebagai peluang untuk mendorong konsesi dan membuka jalan menuju perjanjian nuklir yang diperbarui,” ujarnya.
Sementara itu, dari pihak Teheran, Araghchi tiba di Muscat pada malam hari bersama diplomat senior. Dalam unggahan di platform X, ia menegaskan sikap hati-hati.
“Komitmen harus dihormati. Kesetaraan, saling menghormati, dan manfaat bersama bukan sekadar jargon, melainkan fondasi utama bagi kesepakatan yang berkelanjutan,” tulisnya.
Penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, menyebut Araghchi sebagai negosiator berpengalaman yang mendapat kepercayaan penuh dari lingkaran strategis dan militer.
Nuklir Jadi Titik Tengah
Pemerintah Iran bersikeras bahwa dialog hanya menyentuh isu nuklir. Namun, laporan Al Jazeera menyebut adanya usulan dari diplomat Mesir, Turki, dan Qatar: penghentian pengayaan uranium selama tiga tahun, pengiriman uranium berkadar tinggi ke luar negeri, serta komitmen tidak memulai penggunaan rudal balistik. Rusia dikabarkan siap menampung uranium tersebut.
Shamkhani menegaskan, penghentian total program nuklir atau pengiriman uranium keluar negeri bukan opsi bagi Teheran. Ia juga menolak memasukkan jaringan “Poros Perlawanan” ke dalam meja perundingan.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.