MENU
AS Serbu Venezuela, 100 Tewas dan Penangkapan Maduro Picu Kecaman Duni...
WA FB
Dunia

AS Serbu Venezuela, 100 Tewas dan Penangkapan Maduro Picu Kecaman Dunia

J Editor : Jansen Siahaan | 08 Jan 2026 | 13:53 WIB
AS Serbu Venezuela, 100 Tewas dan Penangkapan Maduro Picu Kecaman Dunia
AS Serbu Venezuela, 100 Tewas dan Penangkapan Maduro Picu Kecaman Dunia

Caracas, Sinata.id — Operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela memicu gelombang kecaman internasional setelah pemerintah Caracas mengungkap sedikitnya 100 orang tewas dalam serangan yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, menyebut operasi tersebut sebagai salah satu serangan paling brutal terhadap kedaulatan negaranya. Selain korban jiwa, jumlah korban luka dilaporkan setara dengan angka kematian.

Serangan yang berlangsung pada 3 Januari 2026 itu melibatkan pengeboman dan penyerbuan di ibu kota Caracas oleh pasukan khusus AS. Target utama operasi disebut untuk menangkap Maduro yang dituding Washington sebagai pemimpin tidak sah.

Dalam pernyataan resmi pertamanya, militer Venezuela mengonfirmasi 24 personel militer tewas, termasuk lima perwira tinggi berpangkat laksamana. Namun Cabello menegaskan jumlah korban secara keseluruhan jauh lebih besar.

Cabello juga mengungkapkan bahwa Presiden Maduro dan istrinya, Cilia Flores, mengalami luka saat proses penangkapan. Keduanya kini dalam masa pemulihan dan telah dihadirkan dalam sidang perdana di Pengadilan Manhattan, New York, pada Senin (5/1) waktu setempat.

Dalam sidang tersebut, Maduro dan Flores menyatakan tidak bersalah atas seluruh dakwaan jaksa federal AS, termasuk tuduhan konspirasi narkoterorisme.

Sementara itu, laporan berbeda dari pejabat AS yang dikutip The Washington Post menyebut jumlah korban tewas berkisar 75 hingga 80 orang, termasuk tentara Venezuela, personel keamanan Kuba, dan warga sipil yang terjebak di tengah pertempuran.

Pemerintah Kuba sendiri mengonfirmasi 32 personel militer dan kepolisian Kuba yang bertugas di Caracas turut menjadi korban tewas dalam operasi tersebut. Selama lebih dari satu dekade berkuasa, Maduro diketahui mengandalkan personel keamanan Kuba sebagai bagian dari sistem perlindungan negara.

Gelombang kecaman terhadap Washington terus menguat. Ketua sekaligus Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyatakan tindakan AS melanggar hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Serangan militer dan penangkapan Presiden Maduro serta istrinya merupakan tindakan berbahaya, keliru, dan jelas melanggar hukum internasional,tegas Dino dalam pernyataan resmi FPCI.

Menurutnya, sejumlah pakar hukum internasional independen dari Barat maupun Global South memiliki pandangan serupa. Bahkan, beberapa anggota Kongres AS dari Partai Demokrat dan Republik juga menyatakan operasi tersebut ilegal dan tidak dapat dibenarkan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.