Jenewa, Sinata.id — Amerika Serikat terus memperketat tekanan terhadap program rudal Iran, menjelang dimulainya kembali putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung dengan Teheran yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss. Isu ini berkembang di tengah eskalasi militer dan diplomasi yang semakin intens di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah AS, melalui pernyataan pejabat tinggi dan utusan, menyoroti keberlanjutan program rudal balistik Iran sebagai salah satu hambatan utama menuju kesepakatan yang lebih luas. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut penolakan Iran untuk membahas rudal sebagai “masalah besar” dan tantangan serius dalam proses negosiasi.
Rubio menegaskan bahwa Washington ingin ruang dialog tidak hanya terbatas pada masalah nuklir, tetapi juga mencakup pengendalian misil yang dianggap dapat mengancam keamanan kawasan dan kepentingan Amerika.
“Keengganan Iran untuk memasukkan isu rudal balistik dalam pembicaraan merupakan hambatan besar bagi upaya diplomasi ini,” ujar Rubio, dikutip Kamis (26/2/2026).
Tekanan militer juga meningkat, dengan kehadiran kapal induk dan unit tempur AS yang diposisikan di Teluk Persia. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi tekanan maksimum Washington, sekaligus sinyal kuat bahwa opsi lain tetap di meja jika negosiasi menemui kebuntuan.
Meski tekanan meningkat, Gedung Putih tetap menyatakan bahwa diplomasi adalah jalur utama untuk meredakan ketegangan. Utusan AS termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan akan memimpin tim Amerika dalam pertemuan dengan delegasi Iran, di bawah mediasi Oman, yang berharap dapat melanjutkan dialog yang telah terjalin sejak putaran awal di Muscat dan Jenewa.
Iran sendiri bersikukuh bahwa perundingan harus fokus pada isu nuklir dan menolak pembahasan yang secara luas mencakup program rudalnya. Pemerintah Teheran menegaskan bahwa kemampuan rudal mereka bersifat defensif dan untuk kepentingan pertahanan nasional, bukan ancaman ofensif terhadap negara lain.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan kesiapan negaranya untuk berunding demi kesepakatan “adil dan setara”, asalkan pembicaraan dihormati secara substantif dan tidak hanya berputar pada tuntutan sepihak. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.