MENU
Asal-Usul Manusia Modern Diklaim Berada di Afrika Selatan, Namun Diper...
WA FB
News

Asal-Usul Manusia Modern Diklaim Berada di Afrika Selatan, Namun Dipertanyakan Para Ahli

T Editor : Tumpal Pandapotan | 01 Oct 2025 | 19:22 WIB
Asal-Usul Manusia Modern Diklaim Berada di Afrika Selatan, Namun Dipertanyakan Para Ahli
Gambar ilustrasi ilmuwan mencari DNA manusia pertama. AI

Sinata.id - Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Profesor Vanessa Hayes dari Garvan Institute of Medical Research mengklaim telah berhasil memetakan tempat asal usul manusia modern secara lebih tepat, yaitu di sebuah wilayah di selatan Sungai Zambezi. Namun, klaim besar ini langsung menuai skeptisisme dari para ilmuwan lain di bidang serupa.

Tim Profesor Hayes menganalisis 1.217 sampel DNA mitokondria (yang diturunkan dari garis ibu) dari populasi di Afrika bagian selatan. Dengan melacak garis keturunan hingga ke "ibu" tertua, mereka menyimpulkan bahwa "rumah leluhur" manusia modern terbentang dari Namibia, melintasi Botswana, hingga Zimbabwe. Dukungan bukti geologis dan arkeologis menunjukkan bahwa wilayah ini dahulu adalah lahan basah yang subur, mampu menopang kehidupan manusia selama 70.000 tahun.

"Kita telah lama mengetahui bahwa manusia modern berasal dari Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu, tetapi yang baru kita ketahui hingga penelitian ini adalah di mana tepatnya asal usulnya," ujar Hayes, seperti dikutip dalam publikasinya.

Bantahan dan Skeptisisme dari Komunitas Ilmiah

Meski klaimnya terdengar revolusioner, sejumlah pakar genetika dan paleoantropologi menyoroti kelemahan metodologi penelitian ini.

  • Keterbatasan Sampel: Sarah Tishkoff, ahli genetika dari Universitas Pennsylvania, mempertanyakan bagaimana tim bisa yakin tidak ada garis keturunan yang lebih tua di wilayah Afrika lain yang tidak disertakan dalam sampel penelitian. Ia menekankan bahwa manusia telah bermigrasi dalam jarak jauh, sehingga mustahil menarik kesimpulan geografis hanya dari variasi populasi modern.

  • Kompleksitas Migrasi Manusia: Chris Stringer dari Museum Sejarah Alam London menyatakan keraguan serupa. "Saya benar-benar berhati-hati dalam menggunakan distribusi gen modern untuk menyimpulkan secara pasti di mana populasi leluhur hidup 200.000 tahun lalu, khususnya di benua yang sebesar dan serumit Afrika," katanya. Stringer menambahkan bahwa studi yang berfokus pada satu bagian genom saja tidak dapat menangkap kompleksitas penuh asal-usul mosaik manusia.

Intinya, meski penelitian ini memberikan potongan teka-teki baru, para ahli sepakat bahwa gambaran lengkap asal-usul manusia modern masih jauh lebih rumit dan tidak dapat dijawab hanya oleh satu studi. (A58)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.