Bekasi, Sinata.id - Setelah debat sengit dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai kebijakan penggusuran serta penghapusan wisuda dan studi tur, nama Aura Cinta kembali menjadi sorotan publik. Debat yang viral tersebut menyulut perbincangan panas di berbagai platform media sosial.
Aura Cinta Dikecam Netizen
Kini, Aura Cinta menanggapi berbagai hujatan yang ia terima dengan mengunggah sebuah video di akun TikTok-nya, @iam_auracinta, yang memicu berbagai reaksi netizen.
Dalam video tersebut, Aura menunjukkan momen perdebatan dengan Dedi Mulyadi dan menuliskan sebuah caption yang menyentuh. Ia menyampaikan permintaan maaf atas segala hujatan yang diterima dirinya dan keluarganya, serta menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah untuk menuntut keadilan. "Karena banyaknya hujatan, saya dan keluarga sudah membuat video permintaan maaf untuk Pak Dedi Mulyadi," tulisnya dalam unggahan tersebut. "Video sudah diposting di Instagram atau cek di bio, stop menghujat keluarga saya, saya hanya meminta keadilan, Pak," lanjutnya.
Tak hanya itu, dalam unggahan lainnya, Aura menegaskan bahwa ia hanya ingin memperjuangkan haknya. "Saya, @iam_auracinta, hanya meminta keadilan, Pak Dedi Mulyadi. Saya miskin, saya hanya ingin perpisahan, Pak," tulisnya, dikutip Minggu (27/4/2025).
Sebelumnya, Aura Cinta menjadi bahan perbincangan setelah tampil dalam sebuah video yang memperlihatkan perdebatan langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dalam perdebatan itu, Aura, yang baru saja lulus SMA, mengekspresikan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan penghapusan wisuda. Ia berpendapat bahwa wisuda merupakan momen penting sebagai penutup perjalanan siswa bersama teman-teman mereka selama sekolah.
Namun, Dedi Mulyadi menanggapi dengan tegas. Ia mengungkapkan bahwa wisuda telah menjadi beban finansial bagi banyak orang tua siswa. "Gubernur berusaha mengurangi beban pembayaran orang tua. Kalau sekolah sudah dibikin gratis, orang tua tidak boleh lagi dibebani biaya tambahan," jawab Dedi Mulyadi.
Meski mendapat tanggapan keras dari Dedi, Aura tetap mempertahankan pendiriannya. Ia menyatakan bahwa tanpa adanya momen perpisahan seperti wisuda, siswa akan merasa kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman mereka untuk terakhir kalinya. Dedi Mulyadi kembali menyentil, "Kenangan indah itu tercipta selama proses belajar, bukan saat perpisahan. Kalau tidak ada, ya tidak usah ada."
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.