MENU
Belajar Pengobatan dari Internet, Pria Muda di China Masukkan Lintah k...
WA FB
Dunia

Belajar Pengobatan dari Internet, Pria Muda di China Masukkan Lintah ke Penis Berujung Operasi

T Editor : Tumpal Pandapotan | 31 Jan 2026 | 20:29 WIB
Belajar Pengobatan dari Internet, Pria Muda di China Masukkan Lintah ke Penis Berujung Operasi
Gambar ilustrasi. AI

Beijing, Sinata.id - Seorang pria berusia 23 tahun di Provinsi Henan, China, harus menjalani perawatan darurat di rumah sakit setelah mengalami gangguan serius pada saluran kemihnya.

Insiden itu terjadi setelah ia mencoba metode pengobatan alternatif dengan memasukkan seekor lintah hidup ke dalam uretra, berdasarkan informasi yang ia peroleh dari internet.

Tindakan tersebut justru memicu rasa nyeri hebat dan membuat korban tidak dapat buang air kecil.

Kondisinya memburuk ketika lintah berukuran sekitar lima sentimeter itu bergerak naik hingga mencapai kandung kemih dan menyebabkan penyumbatan saluran kemih.

Pemeriksaan medis di Rumah Sakit Rakyat Zhengzhou menunjukkan lintah tersebut menempel pada dinding kandung kemih.

Hewan itu diketahui mengeluarkan zat antikoagulan yang mencegah pembekuan darah, sehingga memicu perdarahan dan memperparah rasa nyeri.

Tim dokter yang menangani pasien langsung melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk memastikan penyebab keluhan.

Hasil pemeriksaan mengonfirmasi keberadaan benda asing di dalam kandung kemih, sehingga operasi darurat pun dilakukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Dokter dari rumah sakit tersebut menjelaskan bahwa prosedur pembedahan pada area saluran kemih memiliki risiko tinggi.

Tindakan medis yang tidak tepat dapat menimbulkan cedera tambahan, infeksi berulang, gangguan berkemih jangka panjang, hingga penyempitan uretra.

Pengangkatan lintah dilakukan melalui prosedur transurethral bladder foreign body removal, yakni teknik pengeluaran benda asing dari kandung kemih melalui uretra.

Operasi berjalan lancar dan pasien dilaporkan kembali dapat buang air kecil secara normal, dengan rasa nyeri yang berangsur mereda.

Kasus ini menjadi perhatian tenaga medis sebagai contoh dampak berbahaya dari praktik pengobatan tanpa dasar ilmiah.

Dokter mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan memilih pengobatan yang telah terbukti secara medis, guna menghindari risiko kesehatan yang tidak perlu. (A58)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.