Bangkok, Sinata.id – Partai Bhumjaithai yang dipimpin Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mencatat kemenangan besar dalam pemilihan umum legislatif Thailand yang digelar pada Minggu (8/2/2026).
Hasil sementara menunjukkan pergeseran signifikan peta politik konservatif Negeri Gajah Putih.
Anutin Charnvirakul resmi menjabat sebagai Perdana Menteri Thailand sejak akhir 2025, setelah mantan PM Paetongtarn Shinawatra dari Partai Pheu Thai dilengserkan akibat konflik politik yang dipicu sengketa perbatasan Thailand–Kamboja.
“Kemenangan Partai Bhumjaithai hari ini adalah kemenangan bagi seluruh rakyat Thailand, baik yang memilih kami maupun tidak,” ujar Anutin dalam konferensi pers, seperti dikutip dari Reuters, Senin (9/2/2026).
Ia menegaskan komitmennya untuk menjalankan pemerintahan secara efektif dan responsif. “Kami akan bekerja sepenuh kemampuan untuk melayani rakyat Thailand,” imbuhnya.
Hasil Perolehan Kursi
Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum Thailand dengan tingkat surat suara masuk mencapai 94–95 persen, Partai Bhumjaithai berhasil meraih sekitar 192–193 kursi dari total 500 kursi parlemen. Jumlah ini melonjak drastis dibandingkan Pemilu 2023, ketika Bhumjaithai hanya memperoleh 71 kursi.
Sementara itu, Partai Rakyat (Phak Prachachon) penerus Move Forward Party berada di posisi kedua dengan 118 kursi, turun dari 151 kursi pada pemilu sebelumnya. Adapun Partai Pheu Thai mengalami kemerosotan tajam, dari 141 kursi pada 2023 menjadi hanya 74 kursi pada pemilu kali ini.
Analisis dan Respons Pasar
Analis politik dari lembaga think-tank Thailand Future, Napon Jatusripitak, menilai meskipun Bhumjaithai belum tentu menguasai mayoritas absolut, posisi politik Anutin kini sangat kuat untuk merealisasikan agenda kampanye.
“Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Thailand berpeluang memiliki pemerintahan dengan kekuatan efektif untuk memerintah,” ujar Jatusripitak.
Kemenangan ini juga disambut positif oleh pasar keuangan. Indeks saham Thailand pada Senin tercatat melonjak sekitar 3 persen, menyentuh level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Analis menilai reli tersebut dipicu meredanya kekhawatiran akan ketidakstabilan politik.
Nasionalisme dan Agenda Kontroversial
Pengamat menilai keberhasilan Anutin tidak lepas dari strategi nasionalisme yang menguat pasca-konflik perbatasan dengan Kamboja, serta kemampuannya merebut basis pemilih konservatif di wilayah pedesaan yang sebelumnya mendukung Pheu Thai.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.