Menurutnya, jika SRBI terlalu menarik, dana investor akan terkonsentrasi pada instrumen jangka pendek dan mengganggu pasar Surat Berharga Negara (SBN), termasuk pembentukan kurva imbal hasil atau yield curve yang sehat.
“Rupiah tidak hanya membutuhkan suku bunga tinggi, tetapi juga struktur pasar yang kredibel,” tegasnya.
Ia menambahkan, normalisasi yield curve penting untuk mendorong investor kembali masuk ke obligasi jangka panjang sehingga mendukung pembiayaan pembangunan dan memperbaiki ekspektasi pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Selain itu, Fakhrul menekankan pentingnya sinergi antara BI dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurutnya, kebijakan moneter perlu diperkuat dengan komunikasi fiskal yang jelas, terutama terkait subsidi energi, strategi penerbitan SBN, serta arah pembiayaan pemerintah.
“BI menjaga jangkar stabilitas, sementara Kementerian Keuangan menjaga kredibilitas fiskal. Jika keduanya berjalan bersama, pasar akan kembali percaya pada prospek besar ekonomi Indonesia,” tutupnya. (A08)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.