“Dalam jangka pendek rupiah bisa menguat, tetapi kuartal III dan IV belum tentu. Investor tidak hanya melihat suku bunga, tetapi juga faktor struktural,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi ketidakpastian global serta keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI, serta kebijakan ekonomi domestik yang dinilai pasar belum sepenuhnya stabil.
Menurutnya, level keseimbangan rupiah kini telah bergeser di atas Rp17.000 per dolar AS.
Tauhid menegaskan kenaikan BI Rate akan langsung berdampak pada suku bunga perbankan, terutama kredit berbunga mengambang (floating rate).
“Bank biasanya cepat menaikkan bunga kredit saat suku bunga naik. Dampaknya bisa langsung terasa ke masyarakat,” katanya.
Sektor yang paling terdampak adalah kredit konsumsi seperti KPR dan kendaraan bermotor, disusul kredit modal kerja.
Ia memperkirakan pertumbuhan kredit dapat melambat dari sekitar 10% menjadi 8%.
“Stabilitas rupiah memang dibayar dengan potensi perlambatan kredit,” ujarnya.
Tauhid juga menilai target pertumbuhan ekonomi 5,4% akan sulit dicapai pada kondisi saat ini.
Menurutnya, momentum pertumbuhan ekonomi biasanya kuat pada kuartal pertama, namun kini mulai melemah akibat tekanan fiskal dan moneter.
Ia menekankan pentingnya menjaga defisit fiskal di bawah 3% dari PDB, idealnya di kisaran 2,4%–2,5%, untuk menjaga kepercayaan investor. (A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.