Jakarta, Sinata.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menanggapi sorotan yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai kondisi industri perbankan syariah di Indonesia.
Kritik tersebut menyoroti mahalnya biaya produk dan layanan bank syariah dibanding perbankan konvensional, serta penilaian bahwa penerapan prinsip syariah dinilai belum sepenuhnya optimal.
Menanggapi hal itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK sekaligus Anggota Dewan Komisioner, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa pihaknya memandang kritik tersebut sebagai masukan konstruktif bagi pembenahan industri.
Menurut Dian, perkembangan bank syariah sangat bergantung pada dukungan kuat pemerintah, baik dalam penguatan struktur maupun kebijakan pengembangan sektor keuangan syariah.
Ia mengakui, hingga kini struktur biaya perbankan syariah masih relatif tinggi. Kondisi tersebut terutama dipicu oleh mahalnya biaya dana yang berdampak langsung pada penentuan harga pembiayaan kepada nasabah.
Faktor utama penyebabnya adalah skala usaha yang masih terbatas dan tingkat daya saing yang belum optimal. Akibatnya, sumber pendanaan bank syariah masih bertumpu pada dana yang biayanya lebih mahal.
Data OJK menunjukkan, industri bank syariah masih didominasi lembaga dengan aset di bawah Rp40 triliun. Sebagian besar bank umum syariah juga masih masuk kategori KBMI I, dengan modal inti kurang dari Rp6 triliun.
Dian menilai, tantangan terbesar sektor ini bukan hanya soal ekspansi, tetapi juga kebutuhan mendesak untuk memperkuat permodalan agar mampu mencapai skala ekonomi yang lebih efisien.
Dengan kapasitas usaha yang lebih besar, bank syariah diyakini dapat meningkatkan efisiensi operasional, memperluas investasi teknologi, memperbesar penyaluran pembiayaan, sekaligus menciptakan struktur harga yang lebih kompetitif.
Selain itu, penguatan skala juga dinilai membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan pemerintah, termasuk dalam mendukung program prioritas nasional serta meningkatkan kepercayaan negara dalam penempatan dana pada bank syariah.
Di sisi lain, tantangan juga masih muncul pada pengembangan produk. Industri dinilai perlu meningkatkan diferensiasi serta memperkuat model bisnis agar tidak sekadar menawarkan produk dasar.
Menurut Dian, langkah strategis yang dapat ditempuh adalah mengoptimalkan produk yang ada menjadi lebih efisien, inovatif, dan inklusif sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. (A18)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.