“Pertumbuhan kredit BNI kini lebih seimbang di seluruh segmen. Ini membuktikan efektivitas strategi kami dalam menjaga kualitas aset dan mendorong pertumbuhan sektor produktif,” ujar Paolo.
Manajemen Risiko dan Cadangan Kuat
BNI juga memperkuat ketahanan keuangan melalui pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang disiplin dan terukur.
Hingga akhir kuartal III-2025, CKPN tercatat Rp34,7 triliun, dengan rasio cakupan NPL mencapai 222,7%.
“Kami menerapkan risk-based provisioning untuk memastikan ketahanan jangka panjang dan menjaga kepercayaan nasabah,” tegas Paolo.
Direktur Treasury & International Banking, Abu Santosa Sudradjat, menyebut strategi digital transaction banking BNI telah menciptakan pertumbuhan luar biasa.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 21,4% yoy menjadi Rp934,3 triliun, dengan dana murah (CASA) naik 13,3% menjadi Rp613,4 triliun. Pertumbuhan ini menekan biaya dana (cost of fund) dan memperkuat profitabilitas.
Sementara fee-based income tumbuh 11% yoy, menyumbang 30% dari total pendapatan berbasis komisi.
Lonjakan ini didorong oleh kanal digital seperti wondr by BNI, yang penggunanya melesat dari 2,8 juta (2024) menjadi 10,5 juta pengguna (2025).
Nilai transaksi mencapai Rp783 triliun dengan 866 juta transaksi selama sembilan bulan pertama tahun ini.
Untuk segmen korporasi, platform BNIdirect juga mencatat nilai transaksi Rp8.080 triliun, tumbuh 26,7% yoy, dengan volume transaksi mencapai 1,061 juta.
“Strategi digital kami mendorong pertumbuhan CASA dan fee income yang lebih berkelanjutan. Ini adalah fondasi menuju pemulihan biaya dana yang lebih sehat,” jelas Abu.
Meski laba bersih menurun secara tahunan, performa operasional dan ekspansi digital BNI menunjukkan arah yang positif dan berkelanjutan. [zainal/a46]