Meski demikian, Passos menegaskan bahwa teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu. Keputusan akhir tetap berada di tangan pelatih.
Ia mencontohkan seorang pemain yang sempat dianggap kurang aktif karena hanya menempuh jarak sekitar enam kilometer per pertandingan.
Namun setelah dianalisis lebih lanjut melalui rekaman video, pemain tersebut ternyata selalu berada di posisi taktis yang tepat dan bermain sangat efisien.
"Sepak bola bukan atletik. Berlari lebih jauh tidak selalu berarti bermain lebih baik," kata Passos.
Selain sistem pelacakan pemain, Piala Dunia 2026 juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan melalui platform Football AI Pro yang dikembangkan FIFA bersama Lenovo.
Sistem tersebut mampu menganalisis jutaan titik data dan memberikan masukan instan kepada pelatih serta pemain.
Meski era sepak bola semakin dipenuhi teknologi dan kecerdasan buatan, Brasil tetap percaya bahwa faktor manusia menjadi penentu utama kesuksesan di lapangan.
Dengan dukungan data yang lebih lengkap dan teknologi mutakhir, Selecao berharap dapat kembali mengangkat trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2002. (A08)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.