MENU
Bukan Hoaks! Video Laut Merah di Iran Bikin Merinding, Ternyata Ini Pe...
WA FB
Dunia

Bukan Hoaks! Video Laut Merah di Iran Bikin Merinding, Ternyata Ini Penyebabnya

T Editor : Tumpal Pandapotan | 22 Dec 2025 | 10:49 WIB
Bukan Hoaks! Video Laut Merah di Iran Bikin Merinding, Ternyata Ini Penyebabnya
Pulau Hormuz di Iran memerah. foto: shutterstock

Teheran, Sinata.id - Video spektakuler air laut berwarna merah pekat seperti darah di pesisir Iran membanjiri media sosial, memicu spekulasi liar hingga kekhawatiran warga netizen.

Faktanya, fenomena viral ini murni peristiwa alam yang langka, dipicu hujan deras dan kondisi geologi unik Pulau Hormuz.

Perubahan warna dramatis itu terjadi awal pekan ini di Pantai Merah, Pulau Hormuz.

Rekaman yang beredar luas menunjukkan aliran deras material merah dari daratan menyebar ke perairan biru Teluk Persia, menciptakan kontras warna yang mencekam.

Banyak pengguna media yang mengaitkannya dengan ramalan akhir zaman, namun para ahli menegaskan penjelasan ilmiah di baliknya.

Hujan Guyur Tanah Kaya Besi

Badan meteorologi Iran melaporkan, hujan lebat yang mengguyur wilayah selatan negara itu pada Selasa (16/12/2025) lalu menjadi pemicu utama.

Curah hujan tinggi menyapu tanah dan sedimen berwarna merah terang dari bukit-bukit di pulau tersebut ke garis pantai.

"Fenomena ini sama sekali bukan darah atau polusi, melainkan proses alamiah," jelas seorang ahli geologi setempat seperti dikutip dari laporan Associated Press.

"Pulau Hormuz terbentuk dari material vulkanik yang sangat kaya oksida besi, memberikan warna merah menyala pada tanahnya. Saat hujan deras, material ini terbawa ke laut."

Pulau Strategis dengan Panorama Unik

Pulau Hormuz terletak di Selat Hormuz yang strategis, sekitar 1.000 kilometer di selatan ibu kota Teheran.

Kawasan ini dikenal dengan lanskap warnawarninya dan memiliki iklim gersang.

Hujan merupakan kejadian langka yang biasanya hanya terjadi pada musim dingin hingga awal musim semi.

Tanah merah penyebab fenomena ini, yang disebut penduduk lokal sebagai 'gelak', bahkan memiliki nilai ekonomi.

Material tersebut diekspor dalam jumlah terbatas sebagai bahan baku kosmetik, pigmen cat, dan produk kerajinan.

Fenomena 'laut merah' ini terjadi di tengah kondisi kekeringan panjang yang melanda Iran. Data otoritas setempat mencatat defisit curah hujan nasional hingga 89% di bawah rata-rata tahunan.

Presiden Masoud Pezeshkian sebelumnya telah memperingatkan potensi krisis air serius jika hujan signifikan tidak turun.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.