Beijing, Sinata.id - Pemerintah China melontarkan kecaman keras terhadap Presiden Taiwan, Lai Ching Te, menyusul pernyataannya dalam wawancara dengan kantor berita asing yang menyinggung potensi ekspansi Beijing di kawasan Indo-Pasifik. Beijing menilai pernyataan tersebut sebagai provokasi yang dapat memperuncing ketegangan lintas selat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers rutin menyebut Lai sebagai pihak yang memicu instabilitas.
“Pernyataan Lai Ching Te memperlihatkan sikap keras kepala yang pro-kemerdekaan, sekaligus membuktikan ia adalah pengganggu perdamaian, pencipta krisis, dan penyulut perang,” ujar Lin, seperti dikutip AFP.
Ia menegaskan posisi resmi Beijing atas status Taiwan dengan menyatakan, “Apapun yang dikatakan Lai Ching Te tidak akan mengubah fakta sejarah dan hukum Taiwan adalah bagian dari wilayah China”.
Komentar tersebut merespons wawancara Lai dengan Agence France-Presse, di mana ia memperingatkan bahwa jika Taiwan berada di bawah kendali Beijing, ambisi ekspansionis China berpotensi meluas ke negara-negara lain di kawasan, termasuk Jepang dan Filipina. Lai juga menyebut dampaknya dapat menjalar hingga Amerika Serikat dan Eropa.
China selama ini mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk mewujudkan reunifikasi. Ketegangan antara kedua pihak meningkat dalam beberapa tahun terakhir, seiring intensitas latihan militer dan manuver diplomatik di kawasan.
Di tengah situasi tersebut, Taiwan memperkuat hubungan keamanan dan ekonomi dengan negara-negara Eropa, yang menjadi pasar ekspor terbesar ketiganya.
Dalam wawancara yang sama, Lai mendorong peningkatan kerja sama di bidang pertahanan dan kecerdasan buatan dengan mitra Eropa serta menyatakan dukungan terhadap investasi perusahaan semikonduktor Taiwan di luar negeri.
Langkah Taipei itu dinilai Beijing tidak akan mengubah posisi dasarnya. Lin mengatakan upaya mencari dukungan eksternal untuk memperkuat posisi Taiwan merupakan tindakan keliru.
Ia juga menegaskan bahwa ketergantungan pada kekuatan asing untuk menolak reunifikasi tidak akan berhasil.
Sementara itu, Amerika Serikat terus mendorong Taiwan meningkatkan belanja pertahanan dan memperluas kapasitas produksi semikonduktor di dalam negeri, di tengah pertanyaan mengenai sejauh mana komitmen Washington dalam menghadapi kemungkinan eskalasi militer di Selat Taiwan. (A58)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.