MENU
China Tolak Tunduk, Baterai Jadi “Senjata Baru” Melawan AS
WA FB
Berita

China Tolak Tunduk, Baterai Jadi “Senjata Baru” Melawan AS

R Editor : Redaksi Sinata | 13 Oct 2025 | 17:35 WIB
China Tolak Tunduk, Baterai Jadi “Senjata Baru” Melawan AS
China batasi ekspor baterai lithium, memicu ketegangan baru dengan AS di tengah perang dagang teknologi dan energi. (The Economist)

Sinata.id - Ketegangan antara Beijing dan Washington kembali memanas. Kali ini, bukan logam tanah jarang atau chip yang jadi medan tempur, melainkan baterai, sumber energi utama yang menopang masa depan teknologi dunia.

Mulai 8 November mendatang, China resmi menerapkan pembatasan ekspor baterai dan komponen utamanya. Langkah ini bukan sekadar kebijakan industri, tapi sinyal keras bagi Amerika Serikat yang kini bergantung besar pada penyimpanan energi untuk menopang jaringan listrik dan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).

China tampaknya kembali memainkan kartu strategisnya dalam perang dagang. Setelah sempat menekan AS melalui pengendalian logam tanah jarang, kini Beijing menargetkan rantai pasokan baterai, sektor di mana mereka memegang dominasi absolut.

Bukan hanya baterai litium-ion besar untuk pembangkit energi, tapi juga material katoda, anoda, hingga mesin manufaktur baterai, semuanya masuk dalam daftar ekspor yang kini harus berlisensi langsung dari Kementerian Perdagangan China.

Artinya, Beijing bisa mengatur siapa yang boleh dan tidak boleh menerima pasokan mereka. Dalam istilah geopolitik, “mengendalikan energi berarti mengendalikan masa depan.”

Data dari BloombergNEF mengungkap, 65% impor baterai lithium-ion AS berasal dari China. Jadi, ketika keran ekspor itu mulai disempitkan, efeknya langsung terasa.

“Dominasi China di rantai pasokan baterai membuat mereka bisa menekan keras, dan dampaknya ke AS akan terasa cepat,” kata Matthew Hales, analis perdagangan global di BloombergNEF, dikutip Senin (13/10/2025).

Peningkatan permintaan energi di Amerika Serikat melonjak tajam seiring ledakan penggunaan AI. Pusat data di AS kini mengonsumsi listrik dua kali lipat dibanding tahun 2017, dan diprediksi tiga kali lipat pada 2028, menurut laporan Lawrence Berkeley National Laboratory.

“Bagi AS, persoalannya bukan hanya chip, tapi daya. AI butuh listrik, dan listrik butuh penyimpanan,” ujar Emily Kilcrease, Direktur Program Energi dan Keamanan di Center for a New American Security.

Meski kapasitas baterai di Amerika meningkat, produksinya belum mampu mengejar kebutuhan dalam negeri. Pabrik-pabrik yang dibangun di berbagai negara bagian pun tetap bergantung pada komponen impor dari China, mulai dari anoda hingga katoda, yang masing-masing dikendalikan Beijing hingga 96% dan 85% kapasitas globalnya.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.