Sumenep, Sinata.id — Sosok suami Inayah Wulandari Wahid, yakni Moh. Shalahuddin A. Warits, menjadi sorotan publik setelah video acara selamatan pernikahan keduanya beredar di media sosial.
Acara tersebut diketahui berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Selamatan digelar secara sederhana dengan dihadiri keluarga pesantren serta sebagian keluarga Inayah dari Ciganjur.
Informasi ini dikonfirmasi oleh perwakilan Ikatan Alumni Annuqayah (IAA), yang menyebutkan bahwa acara tersebut merupakan momen kebersamaan keluarga dan lingkungan pesantren.
Kabar yang beredar menyebutkan bahwa pernikahan pasangan ini sebenarnya telah berlangsung pada 22 Januari 2025. Namun, publik baru mengetahui kabar tersebut setelah momen haul Abdurrahman Wahid atau Gus Dur serta acara selamatan yang digelar baru-baru ini.
Pernikahan dilangsungkan secara sederhana dan tertutup, hanya dihadiri keluarga inti kedua mempelai. Hingga kini, pihak keluarga belum memberikan keterangan resmi secara rinci terkait pernikahan tersebut.
Profil Moh. Shalahuddin A. Warits
Moh. Shalahuddin A. Warits merupakan pria kelahiran Sumenep, 16 April 1982. Ia dikenal sebagai salah satu pengasuh aktif di Pondok Pesantren Annuqayah dan akrab disapa Ra Mamak.
Pendidikan dasarnya ditempuh di lingkungan Annuqayah, kemudian melanjutkan ke MAK Tebuireng. Ia juga pernah menempuh studi di Al-Azhar University dengan fokus pada Bahasa Arab.
Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan di IAIN Sunan Ampel. Gelar magister diraihnya dari Universitas Indonesia, sedangkan pendidikan doktor diselesaikan di Universitas Gadjah Mada.
Dalam dunia akademik, ia aktif sebagai dosen tetap di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) sejak 2015. Selain itu, ia juga terlibat dalam organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama di wilayah Sumenep.
Pernah Terlibat dalam Politik Lokal
Nama Shalahuddin A. Warits juga sempat mencuat dalam dinamika politik lokal. Ia pernah digadang-gadang maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumenep 2020.
Saat itu, ia menjabat sebagai Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sumenep. Namun, rencana tersebut tidak berlanjut seiring dinamika politik yang berkembang.
Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari ikhtiar untuk mendorong perubahan sosial dan kesejahteraan masyarakat, bukan semata-mata untuk kepentingan politik praktis.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.