JAKARTA, Sinata.id – Tahun 2026 menjadi periode yang berat bagi konsumen. Gelombang kenaikan harga yang dipicu lonjakan biaya energi kini merambat ke berbagai sektor, mulai dari transportasi, pariwisata, hingga kebutuhan pangan sehari-hari.
Data terbaru menunjukkan minyak pemanas menjadi komoditas dengan kenaikan harga paling tajam sepanjang tahun ini, melesat hingga 45,1 persen.
Kenaikan tersebut menempatkan energi sebagai faktor utama yang mendorong meningkatnya biaya hidup masyarakat, sebagaimana diungkap CNBC Indonesia lewat infografis di akun Instagram, dikutip Senin (25/6/2026).
Tak jauh berbeda, harga bensin melonjak 39,8 persen. Lonjakan ini bukan hanya berdampak pada pengeluaran rumah tangga, tetapi juga meningkatkan biaya distribusi barang dan jasa di berbagai sektor ekonomi.
Tekanan harga juga mulai terasa di meja makan masyarakat. Tomat tercatat sebagai bahan pangan dengan kenaikan tertinggi, mencapai 31,1 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa inflasi tidak hanya menghantam sektor energi, tetapi juga mulai menggerus harga kebutuhan pokok.
Sektor perjalanan dan pariwisata turut mengalami kenaikan signifikan. Harga tiket pesawat melonjak 21,6 persen, sementara tarif hotel dan motel naik 19,3 persen. Bagi masyarakat yang berencana bepergian, biaya perjalanan kini menjadi jauh lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya.

Transportasi umum juga tidak luput dari tekanan. Tarif angkutan umum naik 13,5 persen seiring meningkatnya biaya operasional yang dipengaruhi harga bahan bakar dan energi.
Selain itu, sejumlah barang konsumsi lainnya ikut mengalami kenaikan harga, meski tidak setinggi sektor energi. Pakaian naik 7,8 persen, sayuran segar 7,1 persen, kopi 5,3 persen, alas kaki 4,4 persen, serta daging sapi 3,2 persen.
Kenaikan juga terjadi pada tarif listrik yang bertambah 3 persen, diikuti produk tembakau dan rokok 2,8 persen, produk perawatan pribadi 2,6 persen, serta buah segar 2 persen.
Pengamat ekonomi menilai lonjakan harga energi menjadi sumber tekanan utama yang memicu efek berantai ke berbagai sektor. Ketika biaya energi meningkat, biaya produksi, distribusi, dan layanan ikut terdorong naik sehingga akhirnya dibebankan kepada konsumen.
Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa stabilitas harga energi masih memegang peran penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi. Jika tekanan pada sektor energi terus berlanjut, bukan tidak mungkin gelombang kenaikan harga akan semakin meluas ke berbagai kebutuhan lainnya pada paruh kedua 2026.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.