MENU
Dorong Penguatan Kilang, DPR Soroti Ketergantungan Impor BBM
WA FB
Nasional

Dorong Penguatan Kilang, DPR Soroti Ketergantungan Impor BBM

G Editor : Gunawan Purba | 10 Mar 2026 | 16:49 WIB
Dorong Penguatan Kilang, DPR Soroti Ketergantungan Impor BBM
Syarif Fasha

Jakarta, Sinata.id – Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dinilai masih sulit dihindari dalam waktu dekat. Hal ini dipicu oleh kesenjangan antara produksi minyak nasional dan kebutuhan konsumsi energi dalam negeri.

Anggota Komisi XII DPR RI, Syarif Fasha, menyebutkan produksi minyak mentah Indonesia saat ini berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Sementara itu, kebutuhan nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.

Perbedaan angka tersebut membuat Indonesia masih harus menutup kekurangan pasokan melalui impor BBM dari berbagai negara.

“Dengan produksi sekitar 600 ribu barel per hari dan kebutuhan mencapai 1,6 juta barel, kekurangannya memang masih harus dipenuhi melalui impor,” ujar Syarif Fasha di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Politikus Fraksi Partai NasDem itu menjelaskan, pasokan BBM impor selama ini berasal dari sejumlah kawasan, mulai dari Timur Tengah hingga negara-negara di Asia Timur dan Amerika. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan energi nasional masih menghadapi tantangan yang cukup besar.

Meski demikian, Fasha menilai pemerintah memiliki peluang untuk mengurangi ketergantungan impor melalui percepatan pemanfaatan energi alternatif. Salah satu langkah yang dinilai potensial adalah memperluas penggunaan kendaraan listrik di masyarakat.

Menurutnya, peralihan menuju energi listrik dapat membantu menekan konsumsi BBM secara bertahap.

Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas kilang minyak di dalam negeri. Dengan kapasitas pengolahan yang lebih besar, Indonesia diharapkan mampu memaksimalkan pengolahan minyak mentah menjadi BBM di dalam negeri.

“Jika kapasitas kilang terus ditingkatkan, maka kemampuan kita mengolah minyak mentah di dalam negeri akan lebih besar sehingga impor BBM dapat ditekan secara bertahap,” katanya. (A18)

Sumber: Parlementaria

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.