MENU
Dubes RI Libatkan Silicon Valley dalam Negosiasi Tarif Dagang
WA FB
Dunia

Dubes RI Libatkan Silicon Valley dalam Negosiasi Tarif Dagang

R Editor : Redaksi Sinata | 20 Feb 2026 | 17:05 WIB
Dubes RI Libatkan Silicon Valley dalam Negosiasi Tarif Dagang
Duta Besar RI untuk AS menyebut peran Silicon Valley dalam mendukung negosiasi tarif Indonesia–Amerika Serikat, bagian dari strategi diplomasi ekonomi berbasis teknologi. (Ist)

Washington DC, Sinata.id — Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo membuka tabir peran diplomasi ekonomi Indonesia di tengah kerja keras penyelesaian Agreement on Reciprocal Trade (ART), termasuk fungsi strategis Silicon Valley dalam negosiasi tarif dagang antara kedua negara. Pernyataan ini disampaikan usai penandatanganan perjanjian dagang yang disepakati Jakarta dan Washington pekan ini.

Dalam konferensi pers virtual Jumat (20/2/2026), Indroyono menjelaskan bahwa Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC menjadi pusat koordinasi utama untuk mengurus teknis implementasi tarif hasil ART. Tidak hanya itu, peran konsulat di sejumlah kota besar Amerika, termasuk San Francisco yang menjadi gerbang bagi jaringan inovasi teknologi seperti Silicon Valley, ditunjuk untuk mengawal sektor teknologi dan digital dalam perjanjian tersebut.

“Kedutaan RI di AS bertanggung jawab memastikan kesepakatan ini berjalan lancar. Sementara untuk kerja sama di bidang teknologi digital, kami akan koordinasikan melalui Konsulat Jenderal RI di San Fransisco,” ujar Indroyono, menegaskan pentingnya peran wilayah pusat inovasi tersebut sebagai bagian dari strategi diplomasi ekonomi Indonesia.

Langkah KBRI ini terjadi di tengah kesepakatan ART yang berhasil menurunkan tarif impor AS terhadap barang Indonesia menjadi sekitar 19 persen dari sebelumnya 32 persen, dengan beberapa produk kunci seperti sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, dan komponen elektronik mendapatkan pembebasan bea masuk sepenuhnya.

Tarif yang lebih rendah dan pembebasan bea masuk bagi 1.819 pos produk Indonesia itu dipandang sebagai kemenangan diplomasi dagang Jakarta di tengah negosiasi panjang dengan para perwakilan AS. Airlangga Hartarto, Menko Bidang Perekonomian, bahkan menyebut kesepakatan ini tiada lain sebagai solusi “win-win” bagi kedua negara, menguatkan posisi Indonesia di pasar ekspor global.

Namun di balik angka dan kebijakan, kehadiran entitas teknologi besar AS ikut menjadi bagian dari dinamika hubungan ekonomi ini — baik sebagai pihak yang bakal meraih peluang investasi maupun sebagai elemen dalam pembicaraan terkait tarif dan akses pasar produk digital Indonesia ke Amerika. Dukungan koordinasi oleh KJRI San Francisco dan jaringan konsulat di kota inovasi seperti Seattle dan Boston menunjukkan bahwa isu tarif kini tidak lagi sebatas soal barang fisik, tetapi juga layanan teknologi dan digitalisasi. [a46]

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.