MENU
Fenomena Astronomi April 2026: Pink Moon dan Hujan Meteor Lyrids
WA FB
Sains & Teknologi

Fenomena Astronomi April 2026: Pink Moon dan Hujan Meteor Lyrids

J Editor : Jansen Siahaan | 28 Mar 2026 | 06:00 WIB
Fenomena Astronomi April 2026: Pink Moon dan Hujan Meteor Lyrids
Fenomena Pink Moon. (local12)

Pematangsiantar, Sinata.id – Langit malam pada April 2026 akan dihiasi sejumlah fenomena astronomi menarik yang dapat disaksikan langsung dari Indonesia.

Mulai dari bulan purnama Pink Moon hingga puncak hujan meteor Lyrids, semuanya bisa dinikmati tanpa alat khusus.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber astronomi, fenomena ini menjadi momen yang sayang untuk dilewatkan, terutama bagi pecinta langit malam.

Pink Moon Hiasi Awal April

Fenomena Pink Moon diperkirakan terjadi pada 1 April 2026 dan mencapai puncaknya pada 2 April 2026.

Meski disebut “Pink Moon”, bulan tidak benar-benar berwarna merah muda. Nama tersebut berasal dari bunga liar asal Amerika Utara, Phlox subulata, yang mekar pada awal musim semi.

Selain itu, bulan purnama April juga memiliki berbagai sebutan lain dari tradisi masyarakat asli Amerika, seperti “Breaking Ice Moon” dan “Moon When the Streams Are Again Navigable”, yang berkaitan dengan mencairnya es dan dimulainya aktivitas alam setelah musim dingin.

Fenomena ini juga memiliki makna religius karena digunakan sebagai penentu waktu perayaan Paskah dalam kalender Kristen.

Puncak Hujan Meteor Lyrids

Selain Pink Moon, fenomena lain yang dinantikan adalah hujan meteor Lyrids yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 22 April 2026.

Hujan meteor ini terjadi saat Bumi melintasi jalur debu dari Komet Thatcher (C/1861 G1). Partikel debu tersebut terbakar di atmosfer dan tampak seperti cahaya meteor yang melesat di langit.

Lyrids merupakan salah satu hujan meteor tertua yang pernah tercatat dalam sejarah. Fenomena ini dapat diamati dari belahan bumi utara maupun selatan, termasuk Indonesia.

Waktu terbaik untuk menyaksikan hujan meteor ini adalah pada dini hari, sekitar pukul 02.00 hingga 04.00 waktu setempat, di lokasi yang minim polusi cahaya seperti pegunungan atau pedesaan.

Pada saat puncaknya, kondisi bulan berada pada fase waxing crescent dengan iluminasi sekitar 33 persen, sehingga tidak terlalu mengganggu pengamatan.

Tips Menyaksikan Fenomena Langit

Agar dapat menikmati fenomena astronomi secara optimal, masyarakat disarankan untuk:

Memilih lokasi yang gelap dan jauh dari polusi cahaya

Tidak menggunakan cahaya ponsel saat pengamatan

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.