MENU
Gadis Migran Kamboja Diduga Jadi Korban Rudapaksa Tujuh Tentara Thaila...
WA FB
Dunia

Gadis Migran Kamboja Diduga Jadi Korban Rudapaksa Tujuh Tentara Thailand

R Editor : Redaksi Sinata | 22 Nov 2025 | 20:47 WIB
Gadis Migran Kamboja Diduga Jadi Korban Rudapaksa Tujuh Tentara Thailand
Seorang gadis migran Kamboja diduga diperkosa dan dianiaya tujuh tentara Thailand saat melintas di perbatasan Chanthaburi. (Ilustrasi)

Sinata.id - Seorang gadis migran Kamboja diduga menjadi korban pemerkosaan setelah tujuh tentara Thailand disebut melakukan kekerasan sadis terhadap rombongan pekerja yang mencoba melintas di perbatasan Chanthaburi, memicu kecaman keras dan penyelidikan resmi dari pemerintah Kamboja.

Insiden tersebut terungkap setelah korban dan rombongan migran yang berjumlah 14 orang diduga menjadi sasaran kekerasan saat mencoba melintas pada 15 November lalu.

Kementerian Tenaga Kerja dan Pelatihan Kejuruan Kamboja menyampaikan kecaman keras sekaligus membeberkan detail dugaan tindak kekerasan yang dialami para pekerja migran itu.

Menurut laporan awal, mereka diperlakukan secara kejam: dipukul, ditendang, diancam menggunakan senjata, hingga dimintai uang secara paksa.

Dalam pernyataannya, kementerian menyebut para gadis yang berada dalam rombongan tersebut sengaja dipisahkan dari kelompok utama sebelum menjadi korban pelecehan seksual oleh tujuh tentara Thailand berseragam hitam.

Otoritas Kamboja menyebut tindakan itu sebagai “serangan seksual yang sangat mengerikan”.

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Kamboja menegaskan tengah menjalankan penyelidikan terpisah dan akan segera menyampaikan pengaduan resmi kepada Komisaris Jenderal Kepolisian Nasional Thailand.

Peristiwa yang memicu amarah publik ini terjadi di Provinsi Chanthaburi, wilayah Thailand yang berbatasan langsung dengan Distrik Kamrieng, Battambang.

Lintasan tersebut selama ini menjadi titik rawan bagi pekerja migran Kamboja yang berusaha kembali ke tanah air setelah situasi perbatasan menegang sejak Mei lalu.

Data pemerintah Kamboja mencatat sekitar 800.000 migran telah meninggalkan Thailand selama beberapa bulan terakhir.

Meski Negeri Gajah Putih menutup perbatasan pada akhir Juni, ribuan warga Khmer yang terjebak di Thailand tetap nekat menempuh jalur ilegal untuk pulang.

Hingga kini, Kamboja menuntut penyelidikan transparan dan penegakan hukum atas dugaan kekerasan seksual dan pemukulan yang dialami para pekerja migrannya tersebut. [a46]

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.