Dikutip dari CNBC pada Senin (2/3/2026), pasar memperkirakan peluang 79 persen bahwa harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) dapat mencapai setidaknya USD 73 per barel atau lebih.
Harga minyak mentah AS sebelumnya ditutup di USD 67,02 per barel pada Jumat, setelah naik sekitar 17 persen sepanjang tahun ini. Sementara itu, Brent ditutup di USD 73,21 per barel atau menguat sekitar 20 persen sejak awal tahun.
Faktor Kunci: Lalu Lintas di Selat Hormuz
Reaksi pasar minyak ke depan sangat bergantung pada kelancaran lalu lintas tanker di Selat Hormuz, yang merupakan titik krusial perdagangan energi global.
Analis UBS, Henri Patricot, menilai pemulihan arus kapal dan respons Iran akan menjadi penentu utama arah harga dalam beberapa hari mendatang.
Sementara itu, Donald Trump menyatakan operasi militer akan terus berlangsung hingga target AS tercapai, meski ia juga membuka peluang dialog dengan Iran.
Di tengah situasi tersebut, lalu lintas kapal tanker dilaporkan melambat karena perusahaan pelayaran mengambil langkah antisipatif.
Risiko Lonjakan Lebih Tinggi
Menurut data Kpler, lebih dari 14 juta barel minyak per hari diperkirakan melewati Selat Hormuz pada 2025 sekitar sepertiga ekspor minyak global via laut.
Analis UBS bahkan memperingatkan gangguan besar dapat mendorong harga spot Brent melonjak hingga di atas USD 120 per barel dalam skenario terburuk.
Dengan dinamika yang terus berkembang, pelaku pasar diminta mencermati setiap perkembangan geopolitik untuk mengukur dampak jangka panjang terhadap harga minyak mentah dan stabilitas ekonomi global. (A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.