MENU
Harga Minyak Global Tergelincir, CPO Ikut Terseret Turun di Bursa Komo...
WA FB
Dunia

Harga Minyak Global Tergelincir, CPO Ikut Terseret Turun di Bursa Komoditas

R Editor : Redaksi Sinata | 10 Mar 2026 | 16:20 WIB
Harga Minyak Global Tergelincir, CPO Ikut Terseret Turun di Bursa Komoditas
Ilustrasi. (Ist)

Jakarta, Sinata.id - Gejolak pasar energi dunia kembali mengguncang perdagangan komoditas. Setelah sempat melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik, harga minyak mentah global kini justru berbalik arah. Dampaknya langsung terasa pada pasar minyak nabati, terutama minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang ikut terperosok.

Perdagangan Selasa (10/3/2026) menunjukkan kontrak CPO di Bursa Malaysia untuk pengiriman Mei melemah cukup dalam. Hingga siang hari, harga tercatat sekitar 4.439 ringgit Malaysia per ton, turun sekitar 2,81% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan ini tidak lepas dari perubahan sentimen di pasar energi global. Harga minyak mentah yang sebelumnya sempat menembus level psikologis US$100 per barel kini mulai terkoreksi setelah muncul sinyal meredanya ketegangan geopolitik.

Salah satu pemicu perubahan arah pasar datang dari pernyataan Presiden Amerika Serikat yang memberi indikasi konflik dengan Iran berpotensi mereda. Pernyataan tersebut membuat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global sedikit berkurang, sehingga harga minyak kembali melemah.

Bagi pasar minyak sawit, pergerakan harga minyak mentah memiliki pengaruh besar. Hal ini karena CPO menjadi bahan baku utama biodiesel, sehingga fluktuasi harga minyak sering langsung tercermin pada pergerakan harga sawit. Penelitian menunjukkan harga CPO dan minyak mentah memiliki keterkaitan kuat, terutama dalam konteks kebijakan biodiesel.

Ketika harga minyak mentah turun, margin biodiesel ikut tertekan. Dampaknya, minat pasar terhadap bahan baku seperti minyak sawit juga ikut melemah.

Di sisi teknikal, analis melihat area penting pergerakan harga CPO berada di sekitar 4.319 ringgit per ton. Jika level tersebut ditembus, harga berpotensi melanjutkan penurunan menuju 4.195 ringgit per ton. Bahkan dalam skenario yang lebih pesimistis, pelemahan bisa berlanjut hingga mendekati 4.076 ringgit per ton.

Kondisi ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar komoditas terhadap perubahan geopolitik global. Dalam hitungan hari, harga bisa melonjak karena ancaman konflik, lalu jatuh kembali saat ketegangan mulai mereda.

Bagi negara produsen sawit seperti Indonesia dan Malaysia, volatilitas ini menjadi perhatian serius. Sebab setiap pergerakan harga minyak dunia hampir selalu berdampak langsung pada harga komoditas sawit di pasar global. [a46]

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.