Jakarta, Sinata.id – Tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang semakin memanas bukan hanya menjadi headline perang dunia, tetapi juga memicu gelombang besar di pasar modal global, terutama di sektor energi dan migas.
Pergerakan harga komoditas energi mencatat rekor lonjakan signifikan dalam perdagangan awal pekan ini. Dikutip pada Senin (2/3/2026), minyak mentah Brent, acuan global, diperdagangkan naik mendekati 9 %, mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan pasokan dari wilayah Persaingan Energi Dunia.
Badan riset pasar serta analis keuangan pasar modal mengatakan bahwa reli harga minyak langsung memicu kecenderungan investor memindahkan dana mereka ke saham-saham emiten energi. Hal tersebut terlihat dari lonjakan harga saham sejumlah perusahaan migas dalam negeri.
Data perdagangan menunjukkan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) melonjak lebih dari dua digit, sementara PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) serta PT Elnusa Tbk (ELSA) juga mencatat kenaikan harga signifikan. Emiten besar seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) turut menguat, menunjukkan sektor energi menjadi magnet utama di tengah kekacauan pasar yang lebih luas.
Analis pasar modal menilai gejolak geopolitik adalah trigger kuat yang mengubah preferensi risiko investor secara cepat, mendorong dana beralih dari aset berisiko tinggi ke sektor yang dipandang lebih tahan banting saat krisis energi global.
Risiko Global Meningkat, Pasar Modal Bergolak
Kenaikan harga minyak tidak berjalan sendiri. Investor Risk-Off, kondisi ketika investor menghindari aset berisiko, menyebabkan indeks saham utama di sejumlah bursa dunia bergerak turun tajam. Data pasar menunjukkan korelasi negatif antara melonjaknya harga energi dan turunnya selera investor terhadap saham-saham non-energi.
Sementara itu, data terbaru juga menunjukkan aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur laut strategis untuk sekitar 20 % kebutuhan energi global, hampir terhenti akibat ancaman keamanan yang terus meningkat di perairan tersebut. Hal ini semakin memperkuat optimisme terhadap saham migas, tetapi sekaligus memperkaya risiko inflasi global bila gangguan pasokan benar-benar terjadi.
Di Indonesia sendiri, tekanan global tersebut makin nyata dengan IHSG tertekan signifikan dalam perdagangan pagi, menurun lebih dari dua persen saat pelaku pasar bereaksi terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Analis lokal menyebut bahwa pelemahan ini dipicu oleh sentimen risk-off global yang menekan banyak sektor, namun sektor migas relatif bertahan dan bahkan keluar sebagai pemenang sesi perdagangan.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.