Jakarta, Sinata.id – Honda mengumumkan pembatalan peluncuran mobil listrik hasil kerja sama dengan Sony, meski sebelumnya proyek tersebut dijadwalkan memasuki tahap produksi massal dalam beberapa bulan ke depan.
Keputusan ini berkaitan dengan langkah Honda yang lebih dulu membatalkan pengembangan mobil listrik Seri 0 akibat tekanan bisnis dan perubahan strategi elektrifikasi.
Model sedan listrik hasil kolaborasi kedua perusahaan, yakni Afeela 1, bersama SUV listrik yang sempat diperkenalkan di Las Vegas awal tahun ini, dipastikan tidak akan diproduksi massal.
Dalam siaran pers resminya, Honda menyebut pembatalan proyek Seri 0 telah mengubah secara mendasar prinsip operasional bisnis, termasuk dalam hal pemanfaatan teknologi dan aset perusahaan.
Sebagai dampaknya, Honda dan Sony sepakat untuk meninjau kembali arah bisnis perusahaan patungan mereka, Sony Honda Mobility (SHM). Evaluasi tersebut mencakup tujuan awal pengembangan produk mobilitas bernilai tambah tinggi serta layanan terkait.
“Sejak didirikan pada September 2022, SHM bertujuan menggabungkan teknologi dan keahlian Sony serta Honda. Namun, בעקבות peninjauan ulang strategi elektrifikasi Honda pada 12 Maret 2026 dan dinamika pasar kendaraan listrik, asumsi dasar operasional bisnis mengalami perubahan signifikan,” demikian pernyataan resmi Honda, seperti dilansir Sabtu (28/3/2026).
Keputusan tersebut berujung pada penghentian pengembangan dan peluncuran lini kendaraan listrik Afeela, baik model sedan maupun SUV.
Sebelumnya, Honda juga telah membatalkan proyek mobil listrik Seri 0 yang mencakup model 0 Saloon dan 0 SUV, serta menghentikan pengembangan Acura RSX untuk pasar Amerika Serikat.
Padahal, model 0 Saloon dan 0 SUV sempat direncanakan diproduksi di Amerika Serikat dalam waktu dekat. Namun, rencana tersebut urung terealisasi setelah Honda melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi elektrifikasi.
Honda mengakui bahwa keputusan ini diambil di tengah tekanan kinerja bisnis otomotif yang semakin berat. Perusahaan memperkirakan akan mencatat kerugian dalam laporan keuangan konsolidasi untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026.
Dalam pernyataannya, Honda juga menyoroti berbagai faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, termasuk ketidakmampuan beradaptasi secara fleksibel terhadap perubahan pasar, penurunan profitabilitas kendaraan berbahan bakar bensin dan hybrid, serta dampak kebijakan tarif baru.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.