MENU
IHSG Anjlok 4,57% ke 7.577, Saham Big Caps dan Sentimen Global Tekan P...
WA FB
Ekonomi & Bisnis

IHSG Anjlok 4,57% ke 7.577, Saham Big Caps dan Sentimen Global Tekan Pasar

J Editor : Jansen Siahaan | 04 Mar 2026 | 22:42 WIB
IHSG Anjlok 4,57% ke 7.577, Saham Big Caps dan Sentimen Global Tekan Pasar
Pengunjung beraktivitas di main hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta. (bisnis)

Jakarta, Sinata.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 4,57% ke level 7.577,06 pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Pelemahan tajam ini dipicu tekanan saham berkapitalisasi besar serta sentimen negatif dari pasar global.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 362,70 poin setelah dibuka di level 7.896,37 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 7.897,81. Sepanjang sesi perdagangan, hanya 54 saham yang menguat, sementara 734 saham melemah dan 33 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp13.549 triliun.

Secara intraday, IHSG bahkan sempat merosot hingga 5,6% sebelum akhirnya ditutup di kisaran minus 4,6%.

Big Caps Jadi Penekan

Tekanan terbesar terhadap indeks berasal dari saham-saham unggulan, terutama Telkom Indonesia (TLKM), Amman Mineral Internasional (AMMN), dan Bumi Resources Minerals (BRMS).

Pelemahan IHSG sejalan dengan tren negatif bursa Asia di tengah meningkatnya kekhawatiran atas eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Sentimen domestik juga memburuk setelah muncul kabar penurunan outlook kredit Indonesia oleh Fitch Ratings.

Bursa Asia Ikut Tertekan

Gejolak pasar regional cukup tajam. Indeks Kospi Korea dilaporkan anjlok sekitar 12% hingga sempat mengalami trading halt. Indeks SET Thailand turun sekitar 8,6%, sementara Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong juga melemah akibat arus keluar dana dari saham semikonduktor.

Di pasar domestik, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah sekitar 0,17% ke level Rp16.885. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 6,9 basis poin ke level 6,61%. Investor asing tercatat melakukan net foreign outflow sebesar Rp117,9 miliar.

Outlook Kredit Turun

Menjelang penutupan perdagangan, Fitch resmi merevisi outlook sovereign credit Indonesia dari “stable” menjadi “negative”. Langkah ini mengikuti keputusan Moody's pada awal Februari 2026. Sementara S&P Global sebelumnya telah memperingatkan potensi penurunan profil kredit Indonesia, meski belum mengubah rating.

Prospek dan Risiko

Dalam jangka pendek, potensi de-eskalasi konflik global menjadi faktor kunci pembalik sentimen pasar. Namun, jika konflik berkepanjangan, harga minyak berisiko tetap tinggi dan dapat menekan kondisi fiskal Indonesia sebagai net importir minyak.

Pemerintah disebut sijgram Makan Bergizi Gratis, guna menjaga defisit fiskal tetap di bawah batas 3% terhadap PDB.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.