"Faktor utama adalah masuknya aliran modal ke Indonesia. Jika devisa meningkat dan arus investasi tetap terjaga, maka tekanan terhadap rupiah dapat berkurang," ujarnya.
Menurut Esther, investor mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menanamkan modal di Indonesia, seperti kepastian hukum, prospek pertumbuhan ekonomi, ketersediaan bahan baku, dukungan ekosistem industri, integrasi rantai pasok global, kualitas infrastruktur, hingga harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Ia menegaskan bahwa stabilitas kebijakan dan kepastian arah pembangunan ekonomi menjadi modal penting untuk menjaga daya tarik Indonesia di mata investor global.
"Apabila faktor-faktor tersebut dapat dipertahankan dengan baik, peluang masuknya investasi akan semakin besar dan memberikan dampak positif terhadap pasar keuangan domestik," jelasnya.
Rupiah Masih Menghadapi Tekanan
Di tengah penguatan yang terjadi, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan eksternal. Pada Juni 2026, rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global yang memicu kenaikan harga energi dan mendorong keluarnya sebagian modal asing dari pasar domestik.
Menanggapi kondisi tersebut, organisasi Lingkar Pemuda Indonesia (LPI) meminta pemerintah menjadikan situasi ini sebagai momentum untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Direktur Eksekutif LPI, Akhrom Saleh, menilai tantangan terbesar pemerintah saat ini adalah menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Kita sedang berada dalam masa transisi menuju kemandirian pembiayaan nasional. Untuk mewujudkannya diperlukan dukungan dan gotong royong dari seluruh elemen bangsa," ujar Akhrom.
Ia juga mendukung langkah pemerintah yang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan luar negeri. Menurutnya, strategi tersebut dapat memperkuat kedaulatan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Akhrom menambahkan bahwa ruang fiskal yang lebih besar nantinya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sektor strategis seperti pendidikan, riset, pengembangan teknologi, dan hilirisasi industri guna mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Pemuda Diminta Tingkatkan Literasi Keuangan
Selain menyoroti kebijakan ekonomi nasional, LPI juga mengajak generasi muda untuk mengubah pola konsumsi menjadi lebih produktif dan berorientasi pada penciptaan nilai ekonomi.
"Kemandirian ekonomi bangsa harus dimulai dari kemandirian finansial individu, khususnya generasi muda. Tinggalkan budaya konsumtif, tingkatkan literasi keuangan, dan mulai berinvestasi secara bijak," kata Akhrom.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.