MENU
IHSG Kembali Melemah, Investor Tunggu Langkah Transparansi OJK & BEI
WA FB
Ekonomi & Bisnis

IHSG Kembali Melemah, Investor Tunggu Langkah Transparansi OJK & BEI

R Editor : Redaksi Sinata | 04 Feb 2026 | 19:03 WIB
IHSG Kembali Melemah, Investor Tunggu Langkah Transparansi OJK & BEI
IHSG turun di awal pekan, investor menunggu reformasi transparansi OJK & BEI untuk stabilkan pasar dan tarik investor global. (Ilustrasi)

Jakarta, Sinata.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Selasa (3/2/2026) pagi. Pelaku pasar terus mengamati langkah-langkah reformasi transparansi yang tengah dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sebagai faktor kunci membangun kepercayaan investor global.

IHSG tercatat dibuka turun 42,25 poin atau 0,53% ke level 7.880,47, meski di sisi lain Indeks LQ45 justru menguat tipis 2,89 poin atau 0,36% menjadi 809,13.

“Dari perspektif teknikal, pergerakan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support-resistance di kisaran 7.790–8.270. Ada peluang rebound, namun investor perlu waspada terhadap fluktuasi yang bisa menipu,” ujar Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research & Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, dikutip Rabu (4/2/2026).

Nico menyoroti beberapa kebijakan yang sedang diupayakan OJK dan BEI. Penurunan ambang batas kewajiban disclosure kepemilikan saham menjadi di atas 1% serta pengungkapan beneficial owner dinilai akan meningkatkan transparansi dan mengurangi kekhawatiran terkait kepemilikan tersembunyi, yang selama ini menjadi perhatian lembaga pemeringkat global seperti MSCI.

“Selain itu, klasifikasi investor yang lebih jelas akan memberi visibilitas struktur pasar lebih baik, sehingga mempermudah penilaian risiko dan likuiditas,” tambah Nico.

Rencana kenaikan free float minimum menjadi 15% secara bertahap juga diyakini mampu memperdalam likuiditas pasar dan memperluas basis investor. Namun, ia mengingatkan, dalam jangka pendek kebijakan ini bisa memicu penyesuaian bagi beberapa emiten.

“Saat ini, kita membutuhkan kebijakan jangka pendek yang mampu menahan tekanan jual yang masih berlangsung secara masif,” tegasnya.

Di pasar global, data ISM Manufacturing AS menunjukkan peningkatan dari 47,9 menjadi 52,6—catatan pertumbuhan tercepat sejak 2022—didukung pesanan baru dan produksi yang solid. Dari Eropa, pekan ini ECB dan Bank of England (BoE) dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneternya, yang bisa berdampak pada sentimen investor regional.

Sementara itu, bursa saham AS pada Senin (2/2) menguat signifikan. Dow Jones Industrial Average naik 515,19 poin atau 1,05% ke level 49.407,66, S&P 500 bertambah 0,54% ke 6.976,44, dan Nasdaq Composite meningkat 0,56% menjadi 23.592,11.

Bursa Asia pagi ini bergerak di zona hijau: Nikkei melonjak 3,12% ke 54.299,80, Shanghai naik 0,45% ke 4.033,99, Hang Seng bertambah 0,16% ke 26.819,66, dan Straits Times menguat 0,91% menjadi 4.936,83. [a46]

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.