MENU
IHSG Melemah Tajam, Investor Tunggu Kepastian Pertemuan BEI–OJK dan MS...
WA FB
Ekonomi & Bisnis

IHSG Melemah Tajam, Investor Tunggu Kepastian Pertemuan BEI–OJK dan MSCI

J Editor : Jansen Siahaan | 02 Feb 2026 | 12:29 WIB
IHSG Melemah Tajam, Investor Tunggu Kepastian Pertemuan BEI–OJK dan MSCI
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (cnbc)

Jakarta, Sinata.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin (2/2/2026) pagi.

Pelemahan ini terjadi setelah sebelumnya IHSG sempat menguat usai mengalami koreksi cukup dalam pada Rabu dan Kamis (28–29 Januari 2026).

Berdasarkan data RTI Business, IHSG langsung berada di zona merah sejak pembukaan perdagangan. Hingga pukul 10.10 WIB, indeks tercatat turun 4,54 persen ke level 7.955,36. IHSG bahkan sempat menyentuh titik terendah di posisi 7.904,17.

Menurut laporan MNC Sekuritas, tekanan terhadap IHSG terjadi karena pelaku pasar masih bersikap menunggu dan mencermati kepastian hasil pertemuan antara Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan MSCI. Sejumlah saham tercatat melemah sejak awal sesi pertama perdagangan.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat turun 12,40 persen ke level Rp 226 per saham. Selanjutnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melemah 12,11 persen ke harga Rp 3.700 per saham, sementara PT Darma Henwa Tbk (DEWA) terkoreksi 14,07 persen ke level Rp 464 per saham.

Selain itu, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 14,89 persen ke harga Rp 6.000 per saham, disusul PT RMK Energy Tbk (RMKE) yang melemah 13,07 persen ke level Rp 4.390 per saham.

“Pasar cenderung bersikap wait and see menjelang komunikasi resmi antara BEI dan MSCI terkait ketentuan transparansi data free float,” ujar Herditya dalam risetnya.

Dari sisi teknikal, Herditya menyebutkan area koreksi minimal IHSG di rentang 7.945 hingga 8.189 telah tercapai. Ia menetapkan level support pada posisi 7.762, sementara resistance berada di level 8.341.

“Harga emas dunia tercatat turun ke kisaran US$ 4.800 per troy ounce, sehingga menjadi sentimen negatif bagi emiten terkait emas di IHSG. Emiten konglomerasi juga terpantau menekan pergerakan indeks,” jelasnya.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa pasar menantikan hasil pertemuan BEI, OJK, dan MSCI sebagai bentuk komitmen untuk memperbaiki tata kelola pasar modal Indonesia. Investor berharap transparansi di BEI dapat terus ditingkatkan ke depan.

“Jika rekomendasi MSCI tidak diindahkan, ada kekhawatiran Indonesia berisiko kembali ke kategori Frontier Market. Namun, mudah-mudahan hal itu tidak terjadi,” ujar Nafan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.