MENU
Ikan Sapu-Sapu Jadi Makanan? Ini Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspada...
WA FB
Wisata & Kuliner

Ikan Sapu-Sapu Jadi Makanan? Ini Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

J Editor : Jansen Siahaan | 05 Apr 2026 | 09:00 WIB
Ikan Sapu-Sapu Jadi Makanan? Ini Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Pengolahan ikan Sapu-sapu. (threads@danyhermawaan))

Pematangsiantar, Sinata.id — Fenomena berubahnya ikan sapu-sapu yang selama ini dikenal sebagai “pembersih kaca akuarium” menjadi bahan jajanan seperti siomay atau olahan ikan murah di perkotaan memicu diskusi luas.

Di balik kreativitas pemanfaatan sumber daya tersebut, muncul pertanyaan penting: sejauh mana keamanan pangan benar-benar terjamin?

Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies yang mampu bertahan hidup di perairan tercemar. Kemampuannya hidup di sungai dengan kualitas air buruk membuat ikan ini kerap dijadikan indikator menurunnya kualitas lingkungan.

Ikan ini memakan lumut, detritus, hingga limbah organik di dasar perairan. Secara ekologis, hal ini menjelaskan daya tahannya. Namun, dari sisi konsumsi manusia, kondisi tersebut justru menimbulkan kekhawatiran.

Potensi Risiko Kesehatan

Ketika ikan yang hidup di lingkungan tercemar masuk ke dalam rantai makanan manusia, potensi risiko tidak dapat diabaikan.

Kontaminan seperti logam berat, mikroplastik, hingga bakteri patogen berpotensi terakumulasi dalam tubuh ikan. Proses pengolahan memang dapat mengurangi risiko biologis, tetapi tidak selalu mampu menghilangkan zat berbahaya yang bersifat kimia.

Di sinilah pentingnya penerapan standar keamanan pangan, yang sayangnya belum sepenuhnya terlihat dalam praktik produksi skala kecil hingga informal.

Dilema UMKM dan Kualitas Produk

Produksi olahan ikan skala rumahan, seperti bakso ikan atau basreng, menunjukkan peran besar sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam perekonomian. Bahkan, tidak sedikit produk yang mampu menembus pasar yang lebih luas.

Namun, kualitas bahan baku tetap menjadi faktor utama. Jika ikan yang digunakan tidak segar atau berasal dari sumber yang meragukan, maka kualitas produk patut dipertanyakan.

Aroma tidak sedap saat proses produksi, misalnya, bisa menjadi indikasi bahan baku yang kurang layak. Dalam industri pangan, kesegaran bahan merupakan faktor krusial yang tidak dapat diabaikan.

Minimnya Pengawasan dan Higienitas

Fenomena viral pengolahan ikan sapu-sapu di ruang terbuka, seperti kolong jembatan, menunjukkan lemahnya pengawasan.

Tidak hanya jenis ikan yang menjadi persoalan, tetapi juga kebersihan proses produksi. Air, peralatan, serta lingkungan sekitar sangat memengaruhi keamanan produk akhir.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.