Keberadaan uap air ini memberikan dampak berlapis terhadap kenaikan suhu permukaan Arktika.
Pertama, uap air bertindak sebagai gas rumah kaca alami yang mampu mengunci panas di atmosfer.
Kedua, saat udara lembap dari wilayah tropis bergerak menuju kutub yang lebih dingin, uap air mengalami kondensasi menjadi cairan. Proses tersebut melepaskan panas laten langsung ke atmosfer Arktika.
Ketiga, meningkatnya kelembapan memicu terbentuknya lebih banyak awan. Awan tersebut justru bertindak seperti selimut tebal yang menahan panas permukaan agar tidak terlepas ke luar angkasa.
Ketika efek uap air berpadu dengan minimnya konveksi vertikal, suhu di Kutub Utara pun meningkat semakin cepat tanpa kendali.
Emisi Karbon Tetap Jadi Ancaman Utama
Meski berbagai gagasan teknologi intervensi iklim surya atau solar geoengineering mulai dikembangkan, seperti pencerahan awan laut dan injeksi aerosol stratosfer untuk memantulkan sinar matahari, para ahli menilai metode tersebut masih menyimpan banyak ketidakpastian.
Hingga kini, solusi terbaik untuk menyelamatkan ekosistem kutub dari ancaman hilangnya es laut di musim panas tetap dengan menekan emisi karbon global secepat mungkin menuju target emisi nol bersih (net zero emission).
Para ilmuwan menegaskan, selama manusia masih melepaskan karbon dioksida lebih banyak daripada kemampuan alam menyerapnya, suhu Arktika akan terus meningkat dan memperparah krisis iklim global. (A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.