Teheran, Sinata.id – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menginstruksikan seluruh unit militer untuk menghentikan serangan setelah tercapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan Amerika Serikat (AS).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bukan akhir dari konflik.
Pernyataan itu disampaikan melalui siaran televisi pemerintah, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Rabu (8/4/2026), menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan AS yang dimediasi Pakistan.
“Ini bukan akhir dari perang. Namun seluruh angkatan militer wajib mematuhi perintah dan menghentikan tembakan,” ujar Mojtaba Khamenei.
Peringatan serupa juga disampaikan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Dalam pernyataannya, lembaga tersebut menegaskan bahwa Iran tetap dalam posisi siaga.
“Ini tidak menandakan berakhirnya perang. Kami tetap waspada, dan setiap kesalahan dari pihak lawan akan dibalas dengan kekuatan penuh,” demikian pernyataan resmi dewan tersebut.
Di tengah situasi tersebut, muncul laporan bahwa kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei tengah kritis dan tidak dapat menjalankan tugas secara penuh. Laporan media internasional menyebutkan ia sedang menjalani perawatan intensif di Kota Qom, sehingga memunculkan spekulasi terkait kepemimpinan Iran di tengah konflik.
Sementara itu, Iran menegaskan bahwa berakhirnya perang hanya dapat dicapai melalui kesepakatan yang mengakomodasi proposal “rencana 10 poin” yang diajukan Teheran kepada Washington.
Proposal tersebut mencakup sejumlah isu strategis, di antaranya pengendalian lalu lintas di Selat Hormuz, penarikan pasukan AS dari kawasan, pembayaran kompensasi, serta pencabutan sanksi terhadap Iran.
Perundingan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, mulai Jumat (10/4/2026), dan akan berjalan selama masa gencatan senjata. Durasi tersebut dapat diperpanjang sesuai kesepakatan kedua belah pihak.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang juga melibatkan Israel. Pemerintah Israel disebut menyetujui penghentian sementara operasi militer guna membuka ruang bagi jalur diplomasi.
Namun, situasi di lapangan belum sepenuhnya mereda. Laporan terbaru menyebutkan masih terjadi peluncuran rudal, yang menunjukkan potensi eskalasi konflik tetap terbuka.
Perang yang telah berlangsung selama enam pekan itu dilaporkan menewaskan ribuan orang, termasuk warga sipil, serta berdampak besar terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.