Bahkan dalam beberapa hari terakhir, harga minyak Brent sempat menyentuh kisaran US$103 per barel, naik tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Namun sejumlah analis memperingatkan bahwa lonjakan saat ini bisa jadi hanya permulaan.
Bank investasi dan lembaga energi memperkirakan bahwa jika konflik terus memburuk, terutama jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga minyak dapat melonjak jauh lebih tinggi, bahkan mencapai US$150 hingga US$200 per barel.
Bagi Iran, pasar energi global tampaknya menjadi salah satu “senjata strategis” dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel.
Teheran memberi sinyal bahwa mereka bisa membatasi atau bahkan menghentikan aliran minyak menuju negara-negara yang dianggap sebagai lawan.
Peringatan lain yang muncul dari pejabat militer Iran menyebutkan bahwa kapal tanker yang memasok minyak ke Amerika Serikat atau sekutunya bisa dianggap sebagai target militer yang sah.
Ancaman semacam ini membuat perusahaan pelayaran dan perusahaan energi mulai menghitung ulang risiko operasi mereka di kawasan tersebut.
Dampak dari konflik ini tidak hanya dirasakan di Timur Tengah. Banyak negara yang sangat bergantung pada minyak impor dari kawasan Teluk berpotensi terkena imbas besar.
Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan, merupakan konsumen utama minyak yang melewati Selat Hormuz. Jika jalur itu terganggu, negara-negara tersebut bisa mengalami lonjakan biaya energi secara drastis. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.