Sejumlah kapal bahkan memilih rute alternatif yang lebih panjang dengan mendekati perairan Iran demi alasan keamanan.
Kapal Pertamina Masih Menunggu Izin
Sementara itu, dua kapal tanker milik Indonesia yang dioperasikan Pertamina International Shipping masih tertahan di kawasan Teluk Arab hingga 26 Maret 2026.
Kedua kapal tersebut adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang masing-masing berada di sekitar wilayah Arab Saudi serta perairan Kuwait-Irak.
Pihak Kementerian Luar Negeri RI menyatakan bahwa pemerintah Iran telah memberikan sinyal positif terkait permintaan Indonesia agar kedua kapal tersebut dapat melintas dengan aman.
Juru bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyebut koordinasi terus dilakukan bersama Kedutaan Besar RI di Teheran dan otoritas Iran.
“Telah ada tanggapan positif dari pihak Iran, namun waktu pasti pelintasan masih menunggu kesiapan teknis,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Hal senada disampaikan juru bicara Kemlu lainnya, Yvonne Mewengkang, yang menegaskan bahwa aspek keselamatan kru dan kesiapan operasional menjadi prioritas utama sebelum kapal diizinkan melintas.
Dampak Konflik terhadap Energi Global
Ketegangan di Selat Hormuz, yang dipicu konflik kawasan sejak akhir Februari 2026, berdampak besar terhadap distribusi energi global. Jalur ini menjadi salah satu titik vital perdagangan minyak dunia.
Meski demikian, pemerintah Indonesia memastikan kondisi tersebut belum mengganggu pasokan energi nasional, mengingat armada kapal yang dioperasikan Pertamina mencapai ratusan unit.
Pemerintah juga terus melakukan langkah diplomasi guna memastikan keselamatan kapal dan kelancaran distribusi energi di tengah situasi yang masih dinamis. (A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.