MENU
Karyawan Google Memberontak, Tolak AI Dipakai Militer AS, Ini Alasanny...
WA FB
Dunia

Karyawan Google Memberontak, Tolak AI Dipakai Militer AS, Ini Alasannya

J Editor : Jansen Siahaan | 28 Apr 2026 | 19:32 WIB
Karyawan Google Memberontak, Tolak AI Dipakai Militer AS, Ini Alasannya
Kantor Pusat Google. (kompas)

California, Sinata.id – Lebih dari 600 karyawan Google dilaporkan menandatangani surat protes yang ditujukan kepada CEO Sundar Pichai. Mereka menuntut perusahaan memblokir penggunaan model kecerdasan buatan (AI) Google untuk proyek militer rahasia milik Pentagon.

Aksi ini diinisiasi oleh sejumlah pekerja, termasuk dari laboratorium AI Google DeepMind. Lebih dari 20 penandatangan diketahui menduduki posisi strategis, mulai dari level principal, direktur, hingga wakil presiden (VP).

Berdasarkan laporan The Washington Post, surat tersebut mengungkap kekhawatiran karyawan terkait potensi penyalahgunaan teknologi AI jika digunakan dalam operasi militer tertutup.

“Satu-satunya cara untuk memastikan Google tidak terlibat dalam dampak buruk adalah dengan menolak pekerjaan bersifat rahasia (classified workloads). Jika tidak, penggunaan tersebut bisa terjadi tanpa sepengetahuan atau kendali kami,” tulis para karyawan dalam surat tersebut.

Aksi protes ini dipicu laporan The Information yang menyebut Google tengah menjajaki kerja sama dengan Pentagon untuk penggunaan model AI Gemini dalam lingkungan berklasifikasi rahasia.

Ketegangan Industri Teknologi dan Militer

Kekhawatiran ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara industri teknologi dan militer Amerika Serikat (AS).

Perusahaan AI Anthropic saat ini juga terlibat konflik dengan Pentagon karena menolak melonggarkan pembatasan keamanan model AI mereka. Penolakan tersebut bahkan membuat Pentagon menilai Anthropic berpotensi mengganggu rantai pasokan.

Di sisi lain, sejumlah perusahaan teknologi justru mempererat kerja sama dengan militer. Microsoft dilaporkan telah mencapai kesepakatan penyediaan layanan AI untuk lingkungan rahasia militer.

Sementara itu, OpenAI juga mengumumkan kerja sama baru dengan Pentagon yang telah dinegosiasi ulang pada Februari lalu.

Dalam suratnya, para karyawan Google menegaskan bahwa kerja sama tersebut berisiko karena perusahaan tidak dapat sepenuhnya mengawasi penggunaan AI oleh pihak militer.

“Kami adalah karyawan Google yang prihatin terhadap negosiasi antara Google dan Departemen Pertahanan AS,” tulis mereka, dikutip dari The Next Web, Selasa (28/4/2026).

Para penandatangan menilai penggunaan AI dalam militer dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan, terutama dengan berkembangnya teknologi AI berbasis agen yang memiliki tingkat otonomi tinggi.

Salah satu peneliti Google DeepMind di Inggris, Sofia Liguori, menyebut teknologi tersebut berpotensi berbahaya jika tidak dikendalikan secara ketat.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.