Jakarta, Sinata.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menimbulkan efek domino ke industri penerbangan global. Lonjakan harga minyak dunia membuat biaya bahan bakar pesawat meningkat tajam, dan maskapai mulai bersiap menghadapi kemungkinan naiknya harga tiket.
Maskapai berbiaya rendah AirAsia ikut menanggapi situasi tersebut. Perusahaan menilai gejolak harga energi memang berpotensi memberi tekanan pada industri penerbangan, terutama karena bahan bakar merupakan komponen biaya terbesar dalam operasional maskapai.
Situasi ini dipicu konflik militer yang terus memanas di kawasan Timur Tengah. Ketegangan tersebut mendorong harga minyak dunia menembus level tinggi, bahkan sempat melampaui US$100 per barel, sehingga meningkatkan harga bahan bakar jet yang digunakan maskapai penerbangan.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada maskapai besar, tetapi juga maskapai berbiaya rendah yang biasanya memiliki margin keuntungan lebih tipis. Jika harga avtur terus melonjak, maskapai bisa menghadapi tekanan serius terhadap biaya operasional.
Analis pasar minyak senior di Sparta Commodities SA, June Goh, menyebut situasi ini membuat industri penerbangan berada dalam kondisi waspada.
“Tombol panik sudah aktif di banyak tempat,” ujarnya, dikutip Selasa (10/3/2026).
Ia menambahkan, maskapai yang tidak memiliki strategi lindung nilai bahan bakar yang kuat akan sangat rentan terhadap lonjakan harga avtur. Apalagi jika tiket sudah dijual lebih dulu dengan harga yang ditetapkan sebelum kenaikan biaya bahan bakar terjadi.
Tekanan tersebut bahkan berpotensi memicu skenario ekstrem. Beberapa maskapai murah di Asia Tenggara dilaporkan mulai mempertimbangkan langkah darurat, termasuk kemungkinan menghentikan sebagian operasional jika bahan bakar jet menjadi terlalu mahal atau sulit diperoleh.
Dampak konflik juga sudah terasa pada operasional penerbangan global. Sejumlah bandara dan maskapai di Timur Tengah dilaporkan mengalami gangguan layanan, sementara maskapai lain mulai menyesuaikan rute dan strategi operasionalnya.
Meski demikian, sebagian pelaku industri masih berharap konflik tidak berlangsung lama. CEO Air Lease Corp., John Plueger, menilai situasi geopolitik memang dapat mengganggu perjalanan udara, tetapi tidak akan menghentikan aktivitas ekonomi dunia.
“Pandangan saya, konflik ini kemungkinan berlangsung lebih singkat. Dunia tidak berhenti—hanya mungkin tertunda,” katanya.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.