Teheran, Sinata.id - Eskalasi serangan udara yang dilancarkan oleh kekuatan militer gabungan Israel dan Amerika Serikat di wilayah Iran sejak Sabtu (28/2) telah menelan sedikitnya 1.045 korban jiwa. Memasuki hari keenam operasi militer, wilayah udara Iran masih terus diwarnai oleh pemboman yang menyasar sejumlah kota strategis, termasuk ibu kota Teheran.
Laporan media pemerintah Iran pada Rabu (4/3) mengonfirmasi bahwa serangan terbaru menghantam pusat kota Teheran, kota suci Qom, wilayah barat Iran, hingga Provinsi Isfahan di bagian tengah.
Selain menargetkan unit perumahan warga sipil, militer Israel menyatakan bahwa serangan mereka difokuskan pada infrastruktur milik pasukan paramiliter Basij dan bangunan komando keamanan internal yang terafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Data yang dihimpun dari laporan lapangan menunjukkan krisis kemanusiaan yang semakin mendalam.
Selain angka kematian yang mencapai ribuan, lebih dari 6.000 orang dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk di antaranya 200 anak-anak dan remaja yang kini menjalani perawatan di rumah sakit.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) turut memantau dampak serangan yang terjadi di dekat situs sensitif. Dalam laporannya, IAEA menyebut terdapat kerusakan pada dua bangunan di sekitar situs nuklir Isfahan.
Baca: Spanyol Tolak Bantu Operasi Militer AS, Iran Angkat Topi dan Sebut Sikap Madrid BeraniMeski demikian, badan pengawas nuklir PBB tersebut memastikan tidak ada kerusakan pada fasilitas utama yang menyimpan material nuklir.
Kondisi keamanan yang tidak menentu telah memicu eksodus besar-besaran. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat setidaknya 100.000 warga sipil telah meninggalkan Teheran sejak awal konflik guna mencari perlindungan ke wilayah yang lebih aman.
Respons Militer dan Dinamika Politik
Sebagai bentuk balasan, Teheran telah meluncurkan gelombang serangan rudal balistik dan drone yang menyasar wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Walaupun sebagian besar proyektil berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, sisa puing dan beberapa rudal dilaporkan tetap mengenai aset militer serta area pemukiman warga.
Di Washington, Presiden AS Donald Trump memberikan indikasi bahwa operasi militer ini kemungkinan besar akan berlangsung selama beberapa pekan ke depan. Dalam pernyataan resminya, Trump menyebut struktur kepemimpinan di Teheran saat ini tengah mengalami destabilisasi yang serius.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.