MENU
Ladies First: Dibenci Kritikus, Ditonton Jutaan Orang
WA FB
Hiburan

Ladies First: Dibenci Kritikus, Ditonton Jutaan Orang

T Editor : Tigor Munthe | 29 May 2026 | 13:30 WIB
Ladies First: Dibenci Kritikus, Ditonton Jutaan Orang
Ladies First. (Foto: Ist)

JAKARTA, Sinata.id  — Fenomena aneh kembali terjadi di Netflix. Film Ladies First yang baru tayang 22 Mei 2026 langsung meledak di tangga tonton global, meski para kritikus kompak mencercanya habis-habisan. Sebuah paradoks yang makin sering terjadi di era streaming. Tentang Film Ladies First mengisahkan Damien Sachs, seorang eksekutif periklanan yang tampaknya memiliki segalanya: uang, kekuasaan, dan deretan hubungan kasual.

Ketika hendak naik jabatan menjadi CEO, hidupnya tiba-tiba terbalik — ia terbangun di dunia paralel yang didominasi perempuan.

Di sana ia harus berhadapan dengan Alex Fox, sosok tangguh yang merupakan versi feminin dari dirinya sendiri. 

Film ini merupakan adaptasi longgar dari film Prancis I Am Not an Easy Man karya Éléonore Pourriat (2018).

Disutradarai Thea Sharrock dengan naskah garapan tiga penulis: Natalie Krinsky, Cinco Paul, dan Katie Silberman.

Selain Sacha Baron Cohen dan Rosamund Pike, film berdurasi 90 menit ini juga dibintangi Charles Dance, Emily Mortimer, Richard E. Grant, Fiona Shaw, dan Tom Davis.  Fenomena Nomor Satu Meski mendapat respons negatif dari kritikus, Ladies First berhasil menjadi film paling banyak ditonton di Netflix di 52 negara, termasuk Belgia, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Swiss. 

Namun di sisi lain, film ini hanya meraih skor kritikus 19 persen di Rotten Tomatoes — status "busuk" yang memalukan. Skor penonton relatif lebih baik, yakni 68 persen. 

Resensi Ladies First adalah film yang tahu apa yang ingin dikatakannya — sayangnya ia mengatakannya terlalu keras, terlalu sering, dan terlalu tanpa rasa malu.

Premisnya sesungguhnya menarik: seorang lelaki seksis terbangun di dunia yang dikuasai perempuan, lalu merasakan sendiri apa yang selama ini dialami kaum hawa. 

Sebuah cermin satir yang — bila digarap dengan cermat — bisa menjadi komentar sosial yang menggigit. Namun di tangan sutradara Thea Sharrock, premis itu berubah menjadi komedi situasi yang berjalan di autopilot.

Kritikus Todd Jorgenson menyebut terlalu banyak lelucon yang gagal karena premis satu not ini berakhir pada busur cerita yang bisa ditebak sejak menit pertama. 

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.