MENU
Malaria Monyet Plasmodium Knowlesi: Gejala, Penularan, dan Cara Penceg...
WA FB
Sains & Teknologi

Malaria Monyet Plasmodium Knowlesi: Gejala, Penularan, dan Cara Pencegahan

J Editor : Jansen Siahaan | 15 May 2026 | 11:45 WIB
Malaria Monyet Plasmodium Knowlesi: Gejala, Penularan, dan Cara Pencegahan
Ilustrasi malaria monyet. (istockphoto)

Jakarta, Sinata.id – Kasus malaria monyet atau monkey malaria yang disebabkan oleh parasit Plasmodium knowlesi kini menjadi perhatian serius di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Penyakit ini dilaporkan dapat menular dari primata ke manusia melalui perantara nyamuk, sehingga memerlukan kewaspadaan tinggi.

Infeksi zoonotik ini berbahaya karena gejalanya mirip flu atau malaria biasa, namun dapat berujung fatal jika tidak segera ditangani.

Penularan dari Satwa Liar ke Manusia

Berdasarkan data World Health Organization, Plasmodium knowlesi secara alami hidup pada monyet ekor panjang dan beberapa jenis kera. Perubahan ekosistem akibat deforestasi dan pembukaan lahan meningkatkan interaksi manusia dengan habitat satwa liar.

Penularan terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles yang telah terinfeksi parasit tersebut.

Gejala Malaria Monyet

Masa inkubasi penyakit ini berkisar 10 hingga 15 hari setelah gigitan nyamuk. Gejala awal sering tidak spesifik dan mirip penyakit flu, antara lain demam tinggi dan menggigil, sakit kepala dan nyeri otot, tubuh lemas, mual, dan muntah, serta diare.

Jika tidak ditangani, kondisi dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti gangguan pernapasan, anemia berat, gagal ginjal, hingga penurunan kesadaran.

Tidak Menular Langsung Antar Manusia

Para ahli menegaskan bahwa malaria monyet tidak menular secara langsung dari monyet ke manusia maupun antarmanusia. Penularan hanya terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles yang terinfeksi.

Karena itu, pencegahan utama adalah menghindari gigitan nyamuk, terutama di wilayah hutan, perkebunan, atau daerah endemis.

Cara Mencegah Malaria Monyet

Sejumlah langkah pencegahan yang direkomendasikan ahli kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) antara lain:

Menggunakan losion antinyamuk (repellent) saat beraktivitas di luar ruangan

Mengenakan pakaian tertutup seperti lengan panjang dan celana panjang

Tidur menggunakan kelambu, terutama di wilayah berisiko

Menghindari aktivitas di luar rumah pada jam aktif nyamuk (subuh, malam, dan senja)

Segera memeriksakan diri jika mengalami demam setelah bepergian ke area hutan

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, menegaskan bahwa pencegahan sederhana seperti penggunaan kelambu dan obat anti-nyamuk sangat efektif untuk menurunkan risiko penularan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.