Oleh: Pdt Mis.Ev.Daniel Pardede, MH
Ayub 5:6-7 — “BENCANA”
“Karena bukan dari debu terbit bencana, dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan;
Melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya sendiri, seperti bunga api berjolak tinggi.”
Kasih Tuhan Yesus memberkati saudara-saudariku terkasih.
Memasuki bulan-bulan akhir tahun 2025, kita melihat begitu banyak bencana terjadi, bukan hanya di seluruh wilayah Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia.
Bencana demi bencana datang, berakhir, lalu muncul kembali.
Ada banjir, longsor, gempa, angin puting beliung, serta gunung es yang mencair dan runtuh, menewaskan banyak manusia dan menimbulkan kerugian yang sangat besar.
Jika kita mengingat peristiwa Sodom dan Gomora yang habis rata oleh api besar yang memusnahkan manusia, ternak, dan seluruh harta benda, apakah itu bisa disebut bencana?
Sebagian mungkin berkata itu bencana; sebagian lagi mengatakan itu adalah hukuman Tuhan.
Demikian pula Babel yang digoncangkan dan digetarkan Tuhan (Yeremia 51:29).
Terlepas dari hukum alam, segala sesuatu yang terjadi di dunia—gunung dan lembah, bulan dan bintang, petir dan angin kencang, ombak dan badai, kemarau dan banjir—semuanya berada dalam Kuasa Tuhan.
Tidak ada kuasa lain, baik manusia, iblis, ataupun “kuasa alam”, yang dapat bekerja di luar kehendak-Nya.
Sebab:
“Dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dialah segala kemuliaan dan hormat sampai selama-lamanya.” (Roma 11:36)
Amin!
Jangan pernah berhenti bersyukur kepada Tuhan atas apa pun yang kamu alami, dan atas apa pun yang mungkin datang menimpamu.
Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit selalu cerah; akan ada masa ketika awan menjadi kelabu.
Dia tidak menjanjikan bumi selalu tenang; akan ada saat ia berguncang.
Tetapi satu hal yang pasti:
Tuhan berjanji akan setia menolong dan menjaga umat-Nya dari segala malapetaka.
Dan yang menguatkan imanmu adalah:
“Apa yang telah difirmankan Tuhan, PASTI AKAN DIGENAPI.”
“Tetaplah setia, sebab janji Tuhan tidak pernah gagal.”(A27)