MENU
Minyak Rusia–Iran Dibanting Harga, Stok Mengambang di Laut China
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Minyak Rusia–Iran Dibanting Harga, Stok Mengambang di Laut China

R Editor : Redaksi Sinata | 26 Feb 2026 | 16:14 WIB
Minyak Rusia–Iran Dibanting Harga, Stok Mengambang di Laut China
Rusia dan Iran terlibat perang diskon minyak demi pasar China. Jutaan barel mengapung di laut akibat pasokan berlebih dan kapasitas kilang terbatas. (Ist)

Jakarta, Sinata.id — Perang harga minyak di pasar internasional makin memanas setelah produsen besar Rusia dan Iran secara agresif menurunkan harga jualnya demi menarik pembeli utama di Asia, terutama China. Produk minyak mentah kedua negara itu kini mengalir ke perairan internasional dalam jumlah besar, namun banyak terdampar di laut akibat permintaan yang tidak sebanding dengan pasokan.

Data perdagangan saat ini, Kamis (26/2/2026) menunjukkan bahwa diskon harga minyak Rusia telah mencapai sekitar US$12 per barel di bawah patokan global Brent, sedangkan Iran menawarkan minyaknya dengan potongan hingga US$11 per barel, upaya terakhir untuk mempertahankan daya tarik di tengah persaingan sengit. Kedua strategi ini muncul setelah India mengurangi pembelian minyak Rusia, sehingga pasokan yang semula dialokasikan ke New Delhi kini bergeser ke pasar China yang lebih kompetitif.

Akibatnya, minyak mentah dalam jumlah besar menumpuk di kapal tankers di perairan Asia, termasuk di Laut Kuning dan Selat Singapura, di mana jutaan barel minyak mengapung tanpa pembeli karena kapasitas pengolahan yang terbatas dan kuota impornya ketat. Kondisi ini menciptakan stok migas yang mangkrak di laut, sebuah fenomena yang belum pernah terjadi dalam skala serupa dalam beberapa tahun terakhir.

Para analis pasar menyebut situasi ini sebagai perang diskon harga terbesar antara eksportir minyak yang dikenai sanksi AS dan sekutu Barat, di mana Rusia tampaknya berhasil merebut pangsa pasar lebih besar di China dibanding Iran. Selama awal Februari, volume minyak Rusia yang masuk ke pelabuhan China mencatat rekor harian yang lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Sedangkan pihak Iran justru mengalami penurunan volume ekspor ke sana jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Fenomena menumpuknya minyak di laut ini juga mencerminkan tantangan struktural dalam rantai pasok energi global. Kapasitas kilang terbesar di China terutama dikuasai oleh perusahaan milik negara yang cenderung menghindari minyak dari negara yang dikenai sanksi, seperti Iran, dan sebagian Rusia, sehingga minyak murah itu hanya diserap oleh kilang swasta kecil yang jumlahnya terbatas.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.