Manado, Sinata.id – Beberapa video di kanal Youtube yang menampilkan aktivitas Tim Tarsius—unit elit pengamanan dari Polresta Manado—mendadak menuai sorotan tajam setelah sebagian cuplikan dalam tayangan tersebut mendadak berubah menjadi layar hitam. Insiden ini memicu spekulasi dan tanda tanya dari warganet di media sosial, terkait transparansi kinerja aparat keamanan.
Dilihat Sinata.id dalam beberapa video yang diunggah melalui kanal resmi media sosial milik institusi kepolisian daerah tersebut, terlihat sejumlah anggota Tim Tarsius tengah melakukan patroli malam dan pengamanan di kawasan rawan kriminalitas. Namun, tepat pada menit-menit tertentu, visual tayangan mendadak gelap atau dikenal dengan istilah “layar hitam“, selama sekitar beberapa detik, hanya menyisakan audio samar.
Padahal, berdasarkan narasi suara yang tetap terdengar, momen tersebut diduga merupakan bagian krusial dari operasi—kemungkinan saat terjadi interaksi langsung dengan warga atau pelaku yang diamankan. Sayangnya, publik tidak diberikan akses visual untuk melihat kejadian sebenarnya.
Sejumlah netizen mempertanyakan alasan di balik pemotongan visual secara tiba-tiba tersebut. Tidak sedikit yang menduga bahwa penggelapan tayangan bukanlah kesalahan teknis, melainkan upaya penyuntingan yang disengaja untuk menutupi tindakan atau situasi yang dianggap sensitif, seperti pemukulan atau penganiayaan.
“Kalau memang tidak ada yang perlu ditutupi, mengapa bagian itu harus dihitamkan? Video ini ditujukan untuk publik sebagai bentuk transparansi, bukan propaganda sepihak,” tulis salah satu akun pada sebuah tayangan, dikutip pada Jumat 8 Agustus 2025.
Netizen lainnya menganggap hal tersebut normal dan biasa saja. “Ada prosedur penyuntingan internal yang perlu dilakukan demi menjaga privasi dan etika penyebaran informasi,” tulis akun lainnya.
Namun, jawaban-jawaban tersebut justru memicu lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Beberapa netizen lain bahkan mulai mengaitkan kejadian ini dengan beberapa aduan warga sebelumnya yang menuduh oknum aparat melakukan tindakan represif di lapangan.
Insiden ini memunculkan perdebatan lebih luas mengenai batas antara privasi, keamanan operasi, dan hak publik untuk mendapatkan informasi yang utuh.
Beberapa komentator berharap, dokumentasi aparat negara harus disertai dengan penjelasan memadai agar tidak memunculkan spekulasi liar.
“Jika video itu bertujuan membangun kepercayaan publik terhadap institusi, maka penyuntingan tanpa konteks hanya akan memunculkan kesan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan,” timpal warganet lain.
“Publik tidak butuh propaganda. Yang mereka butuhkan adalah kejujuran dan transparansi, apalagi jika menyangkut tindakan aparat di lapangan,” balas akun lainnya.
Kejadian “layar hitam” dalam video Tim Tarsius menjadi catatan penting bagi kepolisian dalam mengelola komunikasi publik. Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, publik menuntut narasi yang utuh, bukan potongan yang diseleksi. Kepercayaan masyarakat terhadap aparat bukan hanya dibangun dari keberanian menangkap pelaku kejahatan, tetapi juga dari keterbukaan terhadap proses.
Apakah layar hitam tersebut hanya bentuk penyensoran biasa, atau justru menutupi sesuatu yang lebih serius? Sampai pernyataan resmi dikeluarkan dengan transparan, misteri ini tetap akan menjadi bahan perbincangan hangat di tengah masyarakat. (*)