Pematangsiantar, Sinata.id – NASA resmi memulai hitung mundur peluncuran misi berawak ke Bulan melalui program Artemis II.
Roket raksasa Space Launch System (SLS) setinggi sekitar 32 lantai tersebut dijadwalkan lepas landas dari Kennedy Space Center pada Rabu (1/4/2026).
Misi ini akan menjadi penerbangan manusia ke Bulan pertama dalam 53 tahun, sekaligus menandai era baru eksplorasi luar angkasa.
Misi Bersejarah dan Inklusif
Artemis II akan membawa empat astronot, yakni Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch dari Amerika Serikat (AS), serta Jeremy Hansen dari Kanada.
Misi ini juga mencatat sejarah sebagai penerbangan pertama yang melibatkan perempuan ke Bulan, astronot kulit berwarna pertama dalam misi Bulan, dan warga negara non-AS pertama dalam misi lunar
Perjalanan 10 Hari Mengelilingi Bulan
Setelah diluncurkan, awak akan mengorbit Bumi sebelum kapsul Orion membawa mereka menuju Bulan.
Kapsul tersebut tidak akan mendarat, melainkan melakukan manuver flyby atau mengitari Bulan sebelum kembali ke Bumi. Seluruh misi diperkirakan berlangsung hampir 10 hari dan akan diakhiri dengan pendaratan di Samudra Pasifik.
“Tim kami telah bekerja sangat keras untuk mencapai momen ini,” ujar direktur peluncuran Charlie Blackwell-Thompson.
Ia menambahkan, seluruh indikator saat ini menunjukkan kondisi yang sangat baik untuk peluncuran.
Hitung Mundur dan Jadwal Peluncuran
NASA memulai hitung mundur dua hari sejak Senin (30/3/2026). Jendela peluncuran dibuka pada Rabu pukul 18.24 waktu setempat (22.24 GMT).
Pejabat NASA, Amit Kshatriya, menyatakan seluruh sistem dan awak telah siap.
“Wahana sudah siap, sistem sudah siap, dan awak juga sudah siap,” ujarnya.
Sempat Tertunda dan Tantangan Cuaca
Misi Artemis II awalnya dijadwalkan meluncur pada Februari 2026. Namun, sejumlah kendala teknis membuat peluncuran harus ditunda, bahkan roket sempat dikembalikan ke hanggar untuk analisis dan perbaikan.
Selain faktor teknis, kondisi cuaca juga menjadi perhatian utama. NASA menyebut peluang kondisi cuaca yang mendukung mencapai 80 persen, meski masih ada potensi gangguan berupa angin kencang dan tutupan awan.
Tim juga terus memantau aktivitas cuaca matahari yang dapat memengaruhi jalannya misi.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.