MENU
Neraca Dagang RI Surplus 64 Bulan Tanpa Henti, Tembus US$ 5,49 Miliar
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Neraca Dagang RI Surplus 64 Bulan Tanpa Henti, Tembus US$ 5,49 Miliar

R Editor : Redaksi Sinata | 01 Oct 2025 | 19:21 WIB
Neraca Dagang RI Surplus 64 Bulan Tanpa Henti, Tembus US$ 5,49 Miliar
Neraca perdagangan Indonesia Agustus 2025 kembali surplus US$ 5,49 miliar. Rekor 64 bulan berturut-turut, didorong ekspor nonmigas dan pasar utama seperti AS, India, dan Filipina. (Ist)

Sinata.id - Indonesia kembali mencatatkan prestasi di sektor perdagangan internasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca dagang Tanah Air pada Agustus 2025 berhasil mencetak surplus sebesar US$ 5,49 miliar. Angka ini sekaligus memperpanjang tren surplus beruntun selama 64 bulan tanpa henti sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, dalam konferensi pers yang digelar Rabu (1/10/2025), menjelaskan bahwa kinerja ekspor yang lebih tinggi dibanding impor menjadi kunci utama. “Surplus Agustus ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai US$ 7,15 miliar,” ungkapnya.

Ekspor Naik, Impor Turun

Data BPS memperlihatkan nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2025 tembus US$ 24,96 miliar, tumbuh 5,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara impor justru turun 6,56 persen menjadi US$ 19,47 miliar.

Peningkatan ekspor terutama disumbang oleh tiga komoditas andalan, yakni Lemak dan minyak nabati/hewan (HS15) yang melonjak hingga 51 persen, Bahan bakar mineral (HS27), dan Besi serta baja (HS72).

Sebaliknya, sektor migas masih menjadi titik lemah dengan defisit mencapai US$ 1,66 miliar, terutama akibat tingginya impor minyak mentah dan produk turunannya.

Jika ditarik sejak Januari hingga Agustus 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 29,14 miliar. Surplus terbesar datang dari sektor nonmigas dengan nilai US$ 41,21 miliar, sedangkan sektor migas masih terbebani defisit hingga US$ 12,07 miliar.

Negara Penyumbang Surplus dan Defisit

Amerika Serikat kembali menjadi pasar paling menguntungkan dengan surplus perdagangan mencapai US$ 12,20 miliar. India dan Filipina turut memberi kontribusi besar, masing-masing dengan nilai US$ 9,43 miliar dan US$ 5,85 miliar.

Namun, di sisi lain, Indonesia masih mengalami defisit cukup dalam dengan beberapa negara. Tiongkok menjadi penyumbang defisit terbesar, yakni minus US$ 13,09 miliar, disusul Singapura (minus US$ 3,55 miliar) dan Australia (minus US$ 3,49 miliar).

Menariknya, angka surplus pada Agustus 2025 ini ternyata melampaui ekspektasi sejumlah analis. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia sebelumnya memperkirakan surplus hanya sekitar US$ 4,8 miliar. Realisasi yang lebih besar ini semakin memperkuat posisi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global. (A46)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.