MENU
Orang Tua Murid Ganti Kursi Sekolah, Geram Anaknya Dituduh Perusak
WA FB
Regional

Orang Tua Murid Ganti Kursi Sekolah, Geram Anaknya Dituduh Perusak

R Editor : Redaksi Sinata | 01 May 2025 | 02:52 WIB
Orang Tua Murid Ganti Kursi Sekolah, Geram Anaknya Dituduh Perusak
Arta Grace Monica, orang tua murid SD ganti kursi sekolah secara mandiri setelah dituduhkan dirusak oleh anaknya.

Lebak, Sinata.id — Seorang wali murid di SD Negeri 2 Pasir Tangkil, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, mengambil langkah yang mencuri perhatian publik setelah secara mandiri mengganti fasilitas sekolah yang dituduhkan dirusak oleh anaknya.

Orang Tua Murid Ganti Kursi Sekolah

Arta Grace Monica (35), orang tua dari siswi kelas 4, menyampaikan kekesalannya atas sikap pihak sekolah yang langsung menyalahkan anaknya atas kerusakan meja dan kursi, meski menurutnya perabot tersebut sudah dalam kondisi rusak sebelumnya.

"Meja dan kursi itu memang sudah rusak, tetapi anak saya dituduh merusaknya. Saya kecewa karena langsung diarahkan tanggung jawabnya ke kami sebagai orang tua," ujar Arta, dikutip Sinata pada Rabu (30/4/2025).

Sebagai bentuk tanggung jawab, meskipun merasa keberatan secara finansial, Arta memutuskan untuk mengganti satu set meja dan kursi dengan membeli yang baru seharga Rp400.000. Meja dan kursi tersebut kemudian ia bawa sendiri dari rumah ke sekolah sejauh sekitar 200 meter. Di atas meja, Arta menuliskan sebuah pesan singkat: "Meja ini dapat dibeli oleh orang tua karena disuruh mengganti," sebagai bentuk protes atas perlakuan yang ia anggap tidak adil.

Permintaan penggantian tersebut disampaikan oleh Kepala Sekolah SDN 2 Pasir Tangkil, Fifi Siti Rofikoh, melalui grup WhatsApp yang beranggotakan dewan guru dan para wali murid. Langkah komunikasi tersebut menjadi sorotan karena dinilai tidak sesuai etika profesional.

"Permintaan itu tiba-tiba disampaikan di grup WhatsApp tanpa konfirmasi lebih lanjut. Saya sempat terkejut, tapi akhirnya saya pilih mengganti sendiri," ungkap Arta.

Meski beberapa wali murid menyatakan niat untuk membantu secara kolektif, Arta tetap memutuskan menanggung biaya penuh, dengan pertimbangan menjaga nama baik anaknya. Ia juga menyebut bahwa tekanan untuk mengganti muncul setelah adanya teguran terbuka di grup yang mengingatkan orang tua agar tidak membiarkan anak merusak fasilitas sekolah.

Sementara itu, wali kelas siswa yang bersangkutan, Joharnesa, mengaku tidak mengetahui secara langsung mengenai permintaan penggantian tersebut. "Saya sendiri baru tahu dari grup, tidak ada pemberitahuan sebelumnya," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.