MENU
Pejabat Israel Serukan Penyerbuan Masjid Al-Aqsa saat Hari Yerusalem
WA FB
Dunia

Pejabat Israel Serukan Penyerbuan Masjid Al-Aqsa saat Hari Yerusalem

J Editor : Jansen Siahaan | 06 May 2026 | 20:24 WIB
Pejabat Israel Serukan Penyerbuan Masjid Al-Aqsa saat Hari Yerusalem
Militer Israel dikerahkan ke kompleks Masjid Al-Aqsa. (afp)

Yerusalem, Sinata.id – Belasan pejabat Israel, termasuk tiga menteri dalam kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyerukan umat Yahudi untuk memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa secara massal pada Jumat (15/5/2026).

Seruan tersebut bertepatan dengan peringatan pendudukan Israel atas Yerusalem Timur. Laporan ini disampaikan oleh Anadolu Agency dan dikutip Middle East Monitor pada Rabu (6/5/2026).

Dalam kalender Ibrani, tanggal tersebut diperingati sebagai “Hari Yerusalem” atau yang disebut Israel sebagai momen “reunifikasi” kota tersebut. Israel menduduki Yerusalem Timur sejak tahun 1967.

Di sisi lain, tanggal 15 Mei juga bertepatan dengan peringatan Nakba bagi rakyat Palestina, yaitu peristiwa pengusiran massal warga Palestina setelah berdirinya negara Israel pada 1948.

Media lokal Israel, Army Radio, melaporkan bahwa 13 anggota Knesset (parlemen Israel) meminta agar kompleks Masjid Al-Aqsa dibuka bagi umat Yahudi pada momen tersebut.

Tiga menteri yang termasuk dalam daftar tersebut adalah Menteri Komunikasi Shlomo Karhi, Menteri Olahraga Miki Zohar, dan Menteri Urusan Diaspora Amichai Chikli.

Namun, Kepolisian Israel dilaporkan kemungkinan akan menolak permintaan tersebut, meskipun sebelumnya pernah mengizinkan masuknya kelompok besar ke area kompleks.

Sejumlah pejabat juga menyebut bahwa keputusan akhir berada di tangan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Masjid Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam. Sementara bagi umat Yahudi, kawasan tersebut dikenal sebagai Temple Mount atau Bukit Bait Suci, yang diyakini sebagai lokasi dua kuil Yahudi pada masa kuno.

Sejak tahun 2003, otoritas Israel mengizinkan umat Yahudi memasuki kompleks tersebut dengan pembatasan tertentu, yakni tidak pada hari Jumat dan Sabtu.

Meski demikian, warga Palestina memandang aktivitas tersebut sebagai tindakan provokatif yang berpotensi mengubah status quo keagamaan di kawasan suci tersebut.

Palestina juga menilai bahwa Israel terus berupaya mengubah identitas Yerusalem Timur, termasuk kawasan Masjid Al-Aqsa, serta menghilangkan karakter Arab dan Islamnya.

Bagi Palestina, Yerusalem Timur merupakan calon ibu kota negara mereka di masa depan. Hal ini merujuk pada berbagai resolusi internasional yang tidak mengakui pendudukan Israel atas wilayah tersebut sejak 1967 maupun aneksasi pada 1980.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.