MENU
Pembalasan Seorang Pria yang Dihina di Ranjang Kamar 308
WA FB
News

Pembalasan Seorang Pria yang Dihina di Ranjang Kamar 308

R Editor : Redaksi Sinata | 02 Jun 2025 | 03:20 WIB
Pembalasan Seorang Pria yang Dihina di Ranjang Kamar 308
Polisi olah TKP kasus pembunuhan wanita malang di Hotel Bougenvile. (Ist).

Kediri, Sinata.id – Malam itu, Sabtu 14 Mei 2022, Hotel Bougenvile yang biasanya sunyi mendadak berubah menjadi saksi bisu tragedi mengerikan. Di balik pintu kamar 308, terbentang kisah kelam tentang cinta semu, harga diri yang terluka, dan amarah yang meledak hingga berujung maut. Ketika sang room boy, Bambang Romadon, mengetuk kamar dengan harapan memberi sarapan, yang ia temukan justru adalah seorang perempuan muda terbujur kaku, bersimbah darah, dengan tubuh tanpa berbusana yang tak lagi bernyawa.

Ifa Yunanik (33), ibu satu anak, pekerja seks komersial dari Desa Canggu, Kediri, ditemukan tewas dengan luka menganga di leher. Tapi lebih dari sekadar kasus pembunuhan biasa, tragedi ini menjadi viral karena alasan di balik pembunuhan itu sungguh mencengangkan, karena sebuah ejekan soal kejantanan. Jejak Darah di Balik Layar Percakapan Facebook Semua bermula dari dunia maya—Facebook, tempat dua jiwa saling bertukar sapa. M Wahyuddin Mahardhika, pemuda 22 tahun, pekerja di Kantor Urusan Agama Jombang, jatuh dalam godaan tubuh dan rayuan Ifa. Transaksi pun terjadi. Uang Rp500 ribu untuk satu jam kenikmatan di Hotel Banowati pada 7 Mei 2022.

Tapi malam yang seharusnya berakhir dengan kepuasan justru menjadi awal dari dendam terpendam. Di tengah peluh dan napas yang memburu, Ifa melontarkan komentar tajam yang menusuk harga diri Dhika: “Gede sih, tapi cepet keluar.”

Kalimat pendek itu menghancurkan maskulinitas Dhika. Ia merasa dipermalukan. Dihina. Direndahkan di momen yang paling telanjang—baik tubuh maupun harga dirinya. Sejak saat itu, benih pembalasan mulai tumbuh dalam diam. Dari Dendam ke Darah Tanggal 13 Mei 2022, Dhika menghubungi Ifa kembali. Kali ini bukan untuk bercinta, tapi untuk merencanakan akhir hidup sang perempuan. Ia menawarkan Rp1 juta untuk tiga jam layanan. Ifa menyetujui tanpa curiga, mungkin mengira uang bisa menambal luka ego pria yang sempat dia ledek.

Namun Dhika sudah siap dengan sebilah pisau yang dibawa dari rumah, dan pelat nomor motornya ia tutupi.

Di Hotel Bougenvile, kamar 308, mereka kembali berhubungan intim—empat kali dalam satu malam. Tapi bukan kesenangan yang ditunggu Dhika, melainkan momen ketika Ifa lemah dan lengah. Ia menawarkan pijatan. Dan ketika perempuan itu tengkurap, Dhika naik di punggungnya, pura-pura memijat. Saat itulah pisau beraksi.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.