Sinata.id - Perkembangan teknologi telah membawa manusia ke dalam era digital tanpa batas. Di tengah derasnya arus informasi, penggunaan AI bukan lagi sekadar tren futuristis, melainkan kebutuhan nyata. Dari meja redaksi media besar hingga kreator konten mandiri, teknologi kecerdasan buatan telah mengubah cara memproduksi, menyunting, dan mendistribusikan karya.
Namun, di balik kemudahan itu, ada dilema etika dan profesionalisme. Banyak pihak memandang AI hanya sebagai “mesin peniru” yang rawan disalahgunakan. Padahal, bila dimanfaatkan secara bijak, dengan prompt yang tepat, penggunaan AI justru mampu meningkatkan kualitas konten, mempercepat proses kreatif, dan memperluas jangkauan audiens.
Bayangkan seorang penulis berita yang harus mengejar tenggat waktu. Dengan bantuan AI, ia dapat melakukan riset awal lebih cepat, memeriksa fakta, dan menghasilkan draft awal yang efisien. Namun, sentuhan manusia tetap diperlukan untuk menjaga keaslian dan perspektif jurnalistik.
Para kreator video, desainer grafis, dan musisi juga merasakan manfaat yang serupa. Penggunaan AI memungkinkan mereka bereksperimen dengan ide-ide segar tanpa harus memulai dari nol. Contohnya, AI dapat membuat storyboard otomatis atau mengusulkan palet warna sesuai tren terkini. Alhasil, waktu yang sebelumnya terkuras untuk pekerjaan teknis bisa dialihkan ke eksplorasi kreatif.
Prof. Eko Indrajit, pakar teknologi informasi sekaligus Rektor Pradita University, menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang bijaksana dapat menjadi pengungkit produktivitas. Namun, ia mengingatkan, tanpa etika dan ketelitian, teknologi ini bisa menyesatkan.
“Penggunaan AI yang tepat mampu meningkatkan kualitas karya kita. Tapi harus ada kebijaksanaan dan etika. Banyak yang keliru dalam memandang AI,” kata Eko saat pelatihan AI untuk jurnalis di Jakarta, Senin (15/9/2025).
Menurutnya, AI bukanlah entitas mandiri yang mengambil alih keputusan. AI hanyalah alat bantu, pengarah dan pengambil keputusan sejati tetap manusia. AI juga memperingatkan agar hasil yang diberikan tidak boleh diterima mentah-mentah.
“Kita tak bisa lagi menghindari teknologi. Hidup berdampingan dengan AI adalah keniscayaan,” tegasnya.
Eko juga menekankan pentingnya transparansi dalam pemanfaatan teknologi ini. Setiap konten berbasis AI, ujarnya, semestinya dideklarasikan agar publik tidak tertipu.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.